Seorang pengamat, praktisi, serta sekaligus pakar pendidikan kita, St. Vembriarto, baru saja pergi menghadap Tuhannya. Di kalangan masyarakat pendidikan Pak Vem, nama akrabnya, dikenal sebagai pakar yang sangat vokal; berani menyampaikan pendapat apabila hal itu diyakininya sebagai benar. Pak Vem juga dikenal cukup konsisten mempertahankan konsep-konsepnya, meskipun konsep-konsepnya itu seringkali banyak yang menentangnya. Pada waktu Pak Vem wafat sesungguhnya saya sedang berada di luar kota untuk mengikuti acara sosio-akademik yang bertaraf nasional; namun demikian saya menyempatkan diri untuk "kembali" ke Yogya guna memberi penghormatan yang terakhir baginya, dan bagi konsep-konsep serta pemi kiran-pemikiran pendidikannya yang sebagian belum dapat direalisasikan, bahkan tidak dapat direalisasikan sama sekali. Realitasnya memang relatif banyak konsep-konsep pendidikan Pak Vem yang sampai akhir hayatnya belum da-pat direalisasikan, atau bahkan tidak mungkin direalisa-sikan, namun demikian tetap saja sangat bermanfaat untuk memberikan alternatif atau "choices" guna memajukan sis-tem pendidikan nasional kita. Setahu saya paling tidak terdapat dua konsep pen-didikan yang dibela sampai akhir hayatnya; yaitu konsep mengenai sistem persekolahan jalur tunggal (single track school system) serta mengubah bentuk IKIP menjadi univer sitas. Dua konsep pendidikan inilah yang dipertahankan-nya sampai Pak Vem harus meninggalkan kita semua.
Copyrights © 1991