Sebanyak 4.000-an siswa kelas tiga SMU di DKI Jakarta oleh pimpinan sekolah diminta mengikuti Ebtanas ulangan. Sudah barang tentu pimpinan sekolah sekedar melaksanakan perintah pejabat di atasnya; dalam hal ini pimpinan kantor wilayah. Apakah pimpinan kantor wilayah juga sekedar melaksanakan perintah dari pejabat di atasnya lagi atau atas inisiatifnya sendiri tentu masyarakat dengan mudah dapat menduga. Para siswa tersebut diyakini atau divonis tanpa melalui per-sidangan resmi telah mendapat bocoran soal dan/atau kunci jawaban Ebtanas. Adapun cara mendapatkannya tidak disebutkan; apakah secara aktif mencari dokumen penting tersebut sampai ke sumber-nya, distributor dan subdistributor, ataukah secara pasif hanya secara kebetulan mendapatkan dokumen penting tersebut dari teman atau kenalan lainnya. Entah aktif entah pasif mereka itu diwajibkan untuk menempuh Ebtanas ulangan yang diselenggarakan sebagai pengganti Ebtanas yang bocor. Seperti kita ketahui Ebtanas SMU tahun 2000 ini di wilayah DKI Jakarta, yang nota bene wilayah paling dekat dengan markas besar departemen pendidikan nasional, ternyata mengalami kebocoran. Itu artinya, ada sebagian siswa yang mendapatkan bocoran soal dan/atau kunci jawaban sebelum ujian resminya dilaksanakan sejak tanggal 22 Mei 2000 yang lalu. Atas kejadian yang memalukan tersebut, karena kasus kebo-coran seperti ini sudah membiasa, departemen pendidikan mengambil kebijakan untuk mengadakan Ebtanas ulangan. Adapun peserta Ebtanas ulangan terbatas pada para siswa yang diyakini mendapat bocoran soal dan/atau kunci jawaban. Selanjutnya metoda yang dilakukan untuk memastikan seseorang mendapat bocoran atau tidak adalah dengan membandingkan hasil atau nilai Ebtanas dengan nilai belajar hariannya. Kalau nilai hariannya jelek kemudian Ebtanasnya baik maka siswa itulah yang dipastikan mendapat bocoran.Cara Kampungan
Copyrights © 2000