ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006

PENDIDIKAN PASCAGEMPA

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
25 Apr 2010

Abstract

       Seperti yang terjadi di Yogyakarta, sekitar dua tahun lalu atau tepatnya pada tanggal 6 Maret 2004, daerah Nabire Irian Jaya dihantam gempa yang sangat dahsyat. Kedahsyatan gempa di Nabire ini melebihi apa yang terjadi di Yogyakarta karena kalau kekuatan gempa di Yogyakarta hanya 5,9 Skala Richter versi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) maka kekuatan gempa di Nabire mencapai 6,9 Skala Richter.          Mari kita bayangkan, kalau Yogyakarta sekali pukul dengan 5,9 Skala Richter saja banyak bangunan yang ambruk dan rata dengan tanah lalu bagaimana dengan Nabire yang kena ?pukulan? serupa yang kekuatannya lebih besar? Mayoritas bangunan di Nabire roboh dan hancur berkeping-keping, termasuk bangunan sekolah. Lantai ruang belajar dan dinding pun pecah-pecah, retak, bahkan roboh. Tidak hanya bangunan fisik akan tetapi fasilitas sekolah, seperti laboratorium, tempat praktik, kursi, meja, papan tulis, dan lemari, ikut rusak. Lebih daripada itu buku-buku yang ada di sekolah tidak dapat dipakai lagi.          Salah satu keluhan masyarakat yang kemudian muncul adalah kurang adanya penanganan pendidikan yang sungguh-sungguh dari pemerintah pascagempa. Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Nasional Kabupaten Nabire Blasius Nuhuyanan mengatakan, tak ada gempa saja kondisi pendi-dikan jauh di bawah standar nasional, apalagi setelah terjadi gempa. Apakah Yogyakarta akan seperti Nabire?

Copyrights © 2006