Dahulu, Yogyakarta pernah menyandang berbagai predikat sekaligus antara lain seperti Kota Sepeda, Kota Budaya, Kota Pelajar dan Kota Pendidikan. Dipredikati sebagai Kota Sepeda oleh karena di kota ini memang banyak sepeda, baik yang dipakai oleh para pelajar, guru, maupun kelompok masyarakat yang lainnya. Dipredikati sebagai Kota Budaya oleh karena di kota ini memang terdapat banyak objek peninggalan budaya, baik budaya yang dapat disentuh (tangible) maupun budaya yang tidak dapat disentuh (intangible). Yogyakarta dipredikati sebagai Kota Pelajar oleh karena jumlah kaum terpelajar, siswa dan mahasiswa, di kota ini memang relatif banyak jumlahnya bila disbandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya. Demikian juga kota ini dipredikati sebagai Kota Pendidikan oleh karena banyaknya lembaga pendidikan, formal maupun nonformal, yang berkiprah di Yogyakarta. Sekarang, Yogyakarta memang masih mempunyai banyak lembaga pendidikan dan dengan jumlah kaum terpelajar yang banyak pula. Apabila dijumlah, banyaknya lembaga pendidikan dari TK, SD, SLTP, SMU, SMK, s/d PT negeri dan swasta lebih dari 4.000 lembaga dengan jumlah siswa dan mahasiswa lebih dari 800.000 orang. Untuk ukuran kota yang tidak terlalu besar dan wilayah yang tidak terlalu luas, jumlah ini relatif cukup tinggi tentunya. Apakah angka-angka yang cukup ?fantastis? tersebut dapat menjamin kelangsungan predikatif Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan? Sebagian orang menyatakan bahwa Yogyakarta masih layak dipredikati sebagai Kota Pendidikan; akan tetapi sebagian yang lain menyatakan Yogyakarta sudah tidak layak mendapatkan predikat itu disebabkan banyaknya kasus yang tidak konstruktif dan kondusif serta antagonistik dengan sifat pendidikan itu sendiri seperti kumpul kebo, ngeseks pranikah, peredaran obat terlarang, VCD porno, kejahatan fisik, dan sebagainya.
Copyrights © 2002