Kiranya benar apa yang dinyatakan oleh Menteri Pendidikan Nasional, Abdul Malik Fadjar, baru-baru ini bahwa perkembangan pendidikan kita sangat lamban. Perubahan yang terjadi di luar jauh lebih cepat dibanding yang terjadi di dalam dunia pendidikan nasional kita. Ibarat kapal yang besar, sepertinya Indonesia nyaris tenggelam. Ketika kapal-kapal lain melaju dengan kencang, kapal Indonesia berjalan lamban. Awak kapal kita tidak dapat berkonsentrasi penuh untuk melajukan kapal secepat kapal-kapal lain karena harus bekerja keras menambal dinding yang bocor. Perumpamaan ini rasanya tepat. Di dalam konteks global, sejak krisis ekonomi menghantam maka Indonesia tidak dapat berprestasi secara optimal. Fondasi ekonomi kita runtuh dan memerlukan waktu lama untuk memulihkannya; dan ini berpengaruh pada sektor kehidupan masyarakat lainnya, seperti politik, hukum, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, kea-manan, dan sebagainya. Dalam hal daya saing ekonomi, penelitian International Institute for Management Development (IIMD) tahun 2001 hanya menempatkan kita di ranking 49 dari 49 negara. Dalam hal kinerja pendidikan, studi Political and Economical Risk Consultancy (PERC) hanya menempatkan Indone-sia di ranking 12 dari 12 negara di Asia. Sementara itu dalam hal ekonomi, pendidikan, kesehatan dan kependudukan, penelitian United Nations Deve-lopment Programme (UNDP) hanya menempatkan Indonesia di ranking 112 dari 174 negara anggota PBB. Ranking kita selalu di bawah Malaysia, Thailand, Brunei, Singapura, dan negara-negara tetangga lainnya.
Copyrights © 2004