Kurikulum 1984 SMA, sekolah menengah umum tingkat atas, usianya bisa dikatakan baru "seumur jagung" karena belum genap lima tahun; usia minimal teoretis terhadap sebuah kurikulum sekolah yang "diijinkan" untuk dievaluasi dan atau dimodifikasi. Dalam usianya yang masih pendek tersebut ternyata sudah banyak menyita perhatian para pengamat serta para pelaksana kurikulum itu sendiri, sebab ternyata saat ini sudah banyak kritik serta evaluasi kritis yang ditujukan kepada kurikulum tersebut. Dari berbagai kritik dan evaluasi kritis yang muncul dan sedang hangat sekarang ini, nampaknya masalah diferensiasi atau pembedaan program di SMA mendapat porsi yang cukup dominan. Banyak para pengamat yang menilai bahwa sistem diferensiasi SMA tidak mendukung lulusan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, akibatnya sistem diferensiasi SMA yang terdiri atas Program A1, A2, A3, serta A4 (sebenarnya dalam konsepnya masih ada Program A5 dan Pro gram B) menjadi tidak efektif. Mantan Rektor IKIP Negeri Yogyakarta, Prof. Drs. St. Vembriarto mengemukakan bahwa sistem diferensiasi dalam Kurikulum 1984 SMA yang ada sekarang ini bersifat kaku, sempit, tidak efisien dan tidak memberi kesempatan yang sama pada anak didik untuk masuk perguruan tinggi.
Copyrights © 1989