Edisi Selasa Wage, tanggal 9 Oktober 1984, KR memuat "cerita" mengenai hubungan seksual umat yang disebut dengan manusia. Suatu peristiwa yang dulu selalu disimpan (tepatnya: disembunyikan) di bawah tempat tidur kini mulai tersingkap karena lapuknya sang penjaga. Diberitakan bahwa dari 864 peristiwa pernikahan yang dilaksanakan 14 Kantor Urusan Agama (KUA) yang tersebar di Kodya Yogyakarta selama semester pertama tahun 1984, ada 223 pasangan atau sebesar 26,35% mengaku melakukan hubungan seks terlebih dahulu sebelum nikah. Berarti setiap sepuluh pasangan yang menikah maka 2 pasangan di antaranya telah melakukan hubungan seks pra nikah, atau premarital sexual intercourse. Ini tentu berita yang cukup menarik, walaupun bagi sementara orang ini bukanlah merupakan berita yang mengejutkan lagi. Ditambah dengan karikatur yang melukiskan berbondongnya pasangan "siperut-buncit" menuju KUA dari yang berdasi, dan berkaos sampai yang berpakaian pengantin (KR,10 Oktober 1984) serta jumlah Wanita Tuna Susila (WTS) 'resmi' yang dimiliki kota yang mendapat predikat sebagai Kota Pelajar atau Kota Mahasiswa telah mencapai 520 orang, jumlah ini belum termasuk WTS tidak resmi yang tidak sedikit jumlahnya-- (KR, 11 Oktober 1984) maka semakin komplitlah permasalahan yang dihadapi oleh kota kecil ini. Kalau kita tidak munafik masalah ini sesungguhnya sudah cukup lama memberi warna Yogyakarta tercinta ini. Dan sewajar-nyalah masalah ini perlu pemikiran dan penanganan secepatnya. Berbagai pihak harus diperan-aktifkan untuk ikut 'membereskan' masalah ini, baik itu lembaga, departemen, instansi, masyarakat, kelompok sosial sampai individu-individu baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung.
Copyrights © 1984