ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT

MENGAMATI SITUASI PERBUKUAN NASIONAL KITA

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
23 May 2010

Abstract

       Sekitar tiga tahun yang lalu atau tepatnya pada Januari 1995 saya diundang ke Philippina oleh suatu organisasi yang bergerak di bidang pendidikan global dan perdamaian, Peaceful Council and Philippine Global Education (PCPGE). Disamping diminta memberi presentasi di dalam suatu seminar internasional di Manila, saya pun juga diminta untuk mengunjungi pabrik kertas yang ada di Kota Pampangga dekat Quezon City, memerlukan sekitar dua jam perjalan darat dari Manila.        Rupanya pimpinan PCPGE  ingin menunjukkan pada saya bahwa di Philippina telah memiliki pabrik kertas yang di samping berkapasitas internasional juga sangat memperhatikan lingkungan. Ketika tiba di tujuan saya pun mengakui bahwa pabrik kertas tersebut, namanya Trust International Paper Corporation (TIPCO), memang memiliki sistem kesehatan lingkungan yang baik.  Saya dibawa ke suatu kolam besar berisi banyak jenis ikan yang airnya dialirkan dari limbah pa-brik. Oleh "orang pabrik"  saya disilakan memancing dan membakar sendiri ikan hasil pancingan tersebut untuk digunakan sebagai "extra fooding" dalam acara santap siang.       Selanjutnya dalam pertemuan dengan direksi TIPCO  saya tanyakan masa depan pabrik kertas tersebut.  Saat itu saya nyatakan bahwa masyarakat dunia sekarang ini,  termasuk masyarakat Indonesia serta negara-negara lain di Asia termasuk Philippina sendiri, sedang berada dalam masa transisi dari ketergantungan pada media tulis ke media elektronik khususnya televisi dan komputer.  Dengan keadaan seperti itu apakah pabrik-pabrik kertas tidak akan "gulung tikar" nantinya.       Jawaban dari direksi  ternyata di luar "perhitungan" saya;  beliau mengatakan bahwa kemajuan teknologi apapun, termasuk  teknologi elektronika selalu diiringi dengan kebutuhan kertas.  Kalau hal ini tak diperhitungkan masak-masak maka suatu saat negara Anda pun, mak-sudnya Indonesia, bisa-bisa akan mengalami kekurangan kertas.

Copyrights © 1998