Sekitar tiga tahun yang lalu atau tepatnya pada Januari 1995 saya diundang ke Philippina oleh suatu organisasi yang bergerak di bidang pendidikan global dan perdamaian, Peaceful Council and Philippine Global Education (PCPGE). Disamping diminta memberi presentasi di dalam suatu seminar internasional di Manila, saya pun juga diminta untuk mengunjungi pabrik kertas yang ada di Kota Pampangga dekat Quezon City, memerlukan sekitar dua jam perjalan darat dari Manila. Rupanya pimpinan PCPGE ingin menunjukkan pada saya bahwa di Philippina telah memiliki pabrik kertas yang di samping berkapasitas internasional juga sangat memperhatikan lingkungan. Ketika tiba di tujuan saya pun mengakui bahwa pabrik kertas tersebut, namanya Trust International Paper Corporation (TIPCO), memang memiliki sistem kesehatan lingkungan yang baik. Saya dibawa ke suatu kolam besar berisi banyak jenis ikan yang airnya dialirkan dari limbah pa-brik. Oleh "orang pabrik" saya disilakan memancing dan membakar sendiri ikan hasil pancingan tersebut untuk digunakan sebagai "extra fooding" dalam acara santap siang. Selanjutnya dalam pertemuan dengan direksi TIPCO saya tanyakan masa depan pabrik kertas tersebut. Saat itu saya nyatakan bahwa masyarakat dunia sekarang ini, termasuk masyarakat Indonesia serta negara-negara lain di Asia termasuk Philippina sendiri, sedang berada dalam masa transisi dari ketergantungan pada media tulis ke media elektronik khususnya televisi dan komputer. Dengan keadaan seperti itu apakah pabrik-pabrik kertas tidak akan "gulung tikar" nantinya. Jawaban dari direksi ternyata di luar "perhitungan" saya; beliau mengatakan bahwa kemajuan teknologi apapun, termasuk teknologi elektronika selalu diiringi dengan kebutuhan kertas. Kalau hal ini tak diperhitungkan masak-masak maka suatu saat negara Anda pun, mak-sudnya Indonesia, bisa-bisa akan mengalami kekurangan kertas.
Copyrights © 1998