ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
1983: HARIAN BERITA NASIONAL

"TOP TEN" MENGUNTUNGKAN SMTA BERKUALITAS RENDAH

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
07 Jun 2010

Abstract

Seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya maka setiap awal tahun ajaran baru selalu tertandai dengan kompetisi rutine tahunan di khasanah pendidikan untuk memperebutkan 'kursi emas' di perguruan tinggi. Berbagai jalan ditempuh, tidak saja oleh para calon mahasiswa itu sendiri tetapi orang tua atau walinya pun ikutan "mondar-mandir" untuk melicinkan jalan yang akan dilalui oleh putra-putrinya.Segala cara ditempuhnya, baik cara-cara modern dan rasional seperti belajar nonstop, belajar dengan media, mengikut bimbingan tes, mendatangkan privator ke rumah dan sebagainya. Bahkan seringkali pada cara-cara primitif tradisional dan konvensi irasional seperti pergi ke dukun, dan sebagainya (tentu saja tidak semuanya). Cara-cara ini terpaksa dilakukan karena sekarang ini 'orang kebanyakan' pun telah menyadari betapa sulitnya menyekolahkan anak ke perguruan tinggi. Bukan saja karena harus dapat memecahkan materi soal ujian masuk, tetapi yang jelas harus berani bersaing dan sekaligus harus mampu menyisihkan lawan-lawannya.Itu semua disebabkan jauhnya ratio kuantitatif antara peminat dan daya tampung perguruan tinggi. Bayangkan untuk tahun ini terhitung hampir sekitar 231.000 peserta tes untuk memperebutkan 16.000 kursi di Proyek Perintis I (PP I); dengan bahasa lain seorang peserta harus sanggup menyisihkan 13 atau 14 peserta lainnya apabila dirinya ingin diterima di perguruan tinggi (PP I).

Copyrights © 1983