Belum lama ini saya diminta berkunjung pada beberapa lembaga pendidikan di Australia, khususnya di Victoria, untuk berbagai kepentingan sekaligus; salah satunya ke RMIT University di Melbourne ibu kota Victoria. Secara pribadi saya memang punya hubungan dengan beberapa dosen dan pimpinan lembaga ini, termasuk Prof. David Wilmoth salah satu pimpinan di RMIT. Secara organisatorial saya telah menjembatani hubungan antara RMIT dengan beberapa institusi pen-didikan di Indonesia, termasuk Perguruan Tamansiswa sendiri. Dari banyak perguruan tinggi di manca negara yang pernah saya kunjungi, termasuk di negara-negara maju seperti Taiwan, Jepang, Belanda, dsb, ada satu hal yang menarik dari RMIT University terse-but; yaitu relatif banyaknya mahasiswa asing. Universitas yang lahir tahun 1887, lebih dari satu abad, ini memang termasuk bermutu. De-ngan kampus seluas 60 hektar lebih dan tersebar di tiga lokasi, di kota (Melbourne), Coburg dan Bundoora, universitas ini mampu menggaet lebih dari 4.200 (10 persen) mahasiswa asing dari total mahasiswanya yang berjumlah 42.000-an orang. Setelah diamati lebih lanjut ternyata kebanyakan perguruan tinggi bermutu di Australia memang memiliki mahasiswa asing yang banyak jumlahnya. Perguruan tinggi lainnya yang berlokasi sama di Victoria seperti The University of Melbourne mempunyai 2.500-an mahasiswa asing,Deakin University memiliki 5.500-an mahasiswa asing, Monash University memiliki 4.000-an mahasiswa asing, dan La Trobe Univer-sity memiliki 1.500-an mahasiswa asing Sementara itu di luar Victoria, seperti Queensland University of Technology memiliki 2.000-an mahasiswa asing, Murdoch University memiliki 1.200-an mahasiswa asing, The University of Sydney punya 3.000-an mahasiswa asing, The University of Western Australia me-miliki 1.500-an mahasiswa asing, dan sebagainya.
Copyrights © 1998