Pertengahan Maret 2008 lalu seorang guru besar sejarah dan sekaligus ahli sejarah Indonesia kelas dunia, Prof. M.C. Ricklefs, B.A., Ph.D., FAHA, sengaja datang di Indonesia untuk menemui saya di pesantren yang sedang saya kembangkan, Pesantren ?Ar-Raudhah? Yogyakarta. Ia adalah dosen senior di Department of History, National University of Singapore (NUS), Kedatangan Ricklefs sangatlah tepat; di satu sisi ia sengaja melakukan dialog dengan saya tentang berbagai organisasi pergerakan di Indonesia, termasuk Boedi Oetomo (BO), guna memperkuat bahan perkuliahannya, pada sisi lain ketika itu ?Keluarga BO? atau tepatnya Paguyuban Keluarga Besar Pendiri Boedi Oetomo yang nota bene adalah keturunan pendiri BO, menuntut dilakukannya pelurusan sejarah. Menurut paguyuban ini Wahidin Soedirohoesodo bukanlah pendiri BO Tuntutan tersebut tentu saja menarik; di tengah-tengah bangsa Indone-sia mempersiapkan peringatan Satu Abad Kebangkitan Nasional (waktu itu) yang nota bene tanggal peringatannya, 20 Mei, ditetapkan oleh pemerintah RI bersamaan dengan tanggal berdirinya BO, terjadi tuntutan keluarga yang hampir tidak pernah dibayangkan oleh bangsa Indonesia.
Copyrights © 2008