ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT

EMPAT TANTANGAN ILMUWAN SOSIAL KITA

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
23 May 2010

Abstract

       Dari momentum pelantikan pengurus  Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS) Propinsi DIY  periode 1998 s/d 2001 tanggal 21 Februari 1998 terkonklusi terdapatnya empat tan-tangan bagi ilmuwan sosial Indonesia sekarang ini;  pertama, tuntutan peran yang makin tinggi dalam sistem pembangunan nasional, kedua, tuntutan daya prediksi yang makin kuat, ketiga,  tuntutan daya antisipasi yang makin solid,  serta keempat,  tuntutan penjagaan jarak yang tepat dengan pihak penguasa.       Keempat tuntutan itulah yang sekarang ini secara simultan menja-di tantangan yang menarik bagi ilmuwan sosial di Indonesia. Apabila akhir-akhir ini sering muncul kritik tajam dan terkadang sinisme yang dialamatkan kepada para ilmuwan sosial,  hal itu disebabkan adanya anggapan belum terpenuhinya keempat tuntutan tersebut sampai pada tahap memuaskan masyarakat.       Di tengah-tengah kritik tajam dan sinisme yang muncul, sebenar-nya tuntutan makin tingginya peran para ilmuwan sosial  dalam sistem pembangunan nasional kiranya justru menempatkan sosok ilmuwan (dan ilmu) sosial itu sendiri dalam singgasana yang terhormat.  Hal ini bukan saja ada pada tataran praktek bermasyarakat (social behavior), akan tetapi dalam tataran teori (sociology) pun telah terkembangkan kaidah-kaidah seperti itu.  Bahkan kaidah-kaidah yang berkembang di masyarakat (praktek) itu sangat sering sudah terbahas sebelumnya di dalam domein teori.       Dalam bukunya "Theory Building in Sociology" (1989),  Jona-than H. Turner menyatakan  bahwa semakin maju suatu masyarakat di satu tempat tertentu makin diperlukan peran ilmuwan sosial di tempat tersebut.  Hal yang senada juga dinyatakan oleh Karen S. Cook dalam bukunya "Social Exchange Theory" (1990) bahwa "kemetropolisan" masyarakat menuntut peran ilmuwan sosial yang lebih.

Copyrights © 1998