Suatu majalah dwimingguan terbitan Jakarta edisi hari-hari yang sedang berjalan ini menurunkan tulisan mengenai 'Rapor Akhir Tahun 15 Menteri'; dari menteri yang dianggap sangat berprestasi sampai dengan menteri yang dianggap bermasalah. Kelimabelas menteri yang "dikupas" dalam tulisan itu antara lain Yogie SM, Ali Alatas, Oetoyo Oesman, Tarmizi Taher, Harmoko, B.J. Habibie, Moerdiono, dsb; tidak ketinggalan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita Wardiman Djojonegoro. Penekanan penulisan menteri-menteri tersebut bukan pada sosok pribadinya akan tetapi lebih pada program-program yang dilaksanakan berkait dengan tugas dan tanggung jawabnya. Ketika sampai giliran Pak Wardiman majalah itu menulis sbb: "Link and Match atau keter-kaitan dan kesepadanan. Inilah program pendidikan yang dicanangkan Wardiman hampir sejak detik pertama ia diangkat pada 1993. Dan mungkin yang paling kontroversial dari sejumlah kebijakan menteri kelahiran Pamekasan, 62 tahun silam, ini. Sejak awal, berbagai kritik berlontaran dari pelbagai penjuru". Secara implisit nampaknya majalah tersebut menilai bahwa kebijakan Link and Match (LM) merupakan kebijakan pendidikan yang paling populer meski di dalamnya mengandung unsur kontroversial dan banyak kritik. Bahwa LM merupakan kebijakan pendidikan yang paling populer selama perjalanan tahun 1996 ini, bahkan sejak Pak Wardiman diper-caya memimpin departemen pendidikan kiranya memang benar. Lebih daripada itu bahkan ada sementara anggota masyarakat kita yang me-nyebut LM sebagai "primadona pendidikan". Di sisi lain bahwa LM menimbulkan berbagai kritik (dan pujian) kiranya juga benar adanya; namun demikian kalau kebijakan ini dinyatakan bersifat kontroversial memang masih perlu didiskusikan lagi.
Copyrights © 1996