Beberapa tahun yang lampau saya pernah mengalami "lebaran" di negeri orang, tepatnya di Eropa. Setelah selesai menjalani ibadah puasa wajib selama satu bulan, disuatu pagi yang telah ditentukan kita berkumpul di tanah lapang atau di masjid-masjid (ada beberapa masjid yang dibangun oleh orang-orang Turki, Arab, dsb). Bersama-sama kita melaksanakan sholat ied, Idul Fitri. Selesai sholat ied kita saling bersalam-salaman, dan langsung menuju ke kediaman Duta Besar menghadiri undangannya untuk beramah-tamah. Makan-makan, minum-minum ala kadarnya dan "kangen-kangenan" terus pulang. Tidak ada upacara resmi, seremonial protokoler, seremonial religius dan sejenisnya. Keadaan serupa juga dialami oleh umat Islam dari bangsa lain, Arab, Mesir, Turki, Malaysia, dsb. Setelah selesai menjalankan sholat ied biasanya terus pulang dan bekerja seperti biasanya. Kalaupun toh beristirahat pada umumnya tak lebih dari satu hari, hari itu. Tidak ada persiapan khusus menyambut "lembaran". Tidak ada "hura-hura" untuk mudik atau acara pulang kampung. Tidak ada acara masak besar. Dan tidak ada "paket lebaran". Tidak ada acara "sungkeman" dan "ngabekten" serta kumpul keluarga. Bahkan ... tidak ada lebaran!
Copyrights © 1986