Pada akhir bulan November 1996 yang lalu saya berkesempatan menghadiri dan sekaligus memberi presentasi pada kongres internasional pendidikan di Kowloon, Hong Kong yang diselenggarakan oleh badan pendidikan internasional, Pan-Pasific Association of Private Education (PAPE). PAPE adalah organisasi pendidikan yang anggo-tanya berasal dari negara-negara Pasifik dan sekitarnya. Setiap tahun PAPE menyelenggarakan kongres bertempat di negara-negara anggota secara bergiliran. Indonesia sendiri pernah mendapat dua kali giliran; masing-masing di Denpasar (1984) dan di Yogyakarta (1990). Di samping oleh PAPE saya diminta memberikan presentasi pen-didikan maka oleh Pimpinan Musyawarah Perguruan Swasta (MPS) saya diminta memimpin delegasi Indonesia dalam forum tersebut. Su-dah tiga kali saya memimpin delegasi Indonesia dalam forum seperti itu; masing-masing di Jepang, New Zealand, dan Hong Kong. Semenjak ada pertemuan di Auckland, New Zealand, tahun 1995 yang lalu, para anggota PAPE sudah sepakat untuk mengembangkan konsepsi pendidikan keunggulan untuk masyarakat Pan-Pasifik (untuk selanjutnya disebut masyarakat Pasifik). Tanpa pendidikan keunggulan maka kita akan selalu dijajah secara kultural oleh sistem pendidikan Barat melalui kegiatan infiltrasi budayanya. Atas dasar inilah maka di dalam forum PAPE di Hong Kong saya menawarkan pendidikan budi pekerti untuk mengembangkan konsepsi pendidikan keunggulan yang telah kita rindukan tersebut. Kebetulan saya mendapat kesempatan pertama berpresentasi; dan ide pendidikan budi pekerti pun segera saya tawarkan. Idealnya pen-didikan budi pekerti harus dijadikan salah satu kriteria yang harus ter-penuhi dalam membangun manusia unggul."Science and technology, obedience to God's, and moral education becomes the essence of excellent people".
Copyrights © 1997