Sebuah tradisi politis pidato presiden di setiap awal tahun untuk menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) senantiasa mendapat perhatian dari banyak kalangan; baik kalangan dalam maupun luar negeri. Hal ini juga berlaku pada pidato Presiden Soeharto yang disampaikannya tanggal 4 Januari 1996 yang lalu untuk menyampaikan RAPBN Tahun 1996/1997 di depan Rapat Paripurna DPR kita. Bagi banyak kalangan RAPBN 1996/1997 mendapat tanggapan yang positif. Tercerminnya upaya-upaya mengurangi ketergantungan dari pihak "luar" dan naiknya nominal anggaran merupakan dua point penting yang secara akumulatif akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan negara kita di masa mendatang; setidak-tidaknya dalam periode tahun anggaran 1996/1997. Berkurangnya ketergantungan ter-hadap pihak luar tentu akan menaikkan kredibilitas pembangunan; sedangkan naiknya anggaran diharapkan mampu mempertinggi kuantitas pembangunan, dan sudah barang tentu dengan kualitasnya. Seperti diketahui apabila dibandingkan dengan APBN 1995/1996 yang baru saja berakhir, yaitu sebesar 78,02 trilyun rupiah, maka RAPBN 1996/1997,sebesar 90,62 trilyun rupiah, mengalami kenaikan yang berarti; yaitu mencapai 16 persen lebih. Apabila kita bandingkan dengan tahun lalu maka angka kenaikan tersebut ternyata lebih tinggi. Tahun lalu RAPBN 1995/1996 mencapai 78,02 trilyun rupiah, yang berarti nilai kenaikannya "hanya" 11 persen bila dibandingkan dengan APBN 1994/1995 yang besarnya 69,75 trilyun rupiah. Bahwa RAPBN 1996/1997 akan mengalami kenaikan memang su-dah banyak diprediksi oleh para pengamat pembangunan dan ekonomi kita; akan tetapi tentang nilai kenaikannya yang mencapai di atas 16 persen memang tidak semua pengamat mampu memprediksikannya.
Copyrights © 1996