Sangatlah jarang tiga menteri pendidikan berkumpul bersama untuk duduk dan berdialog memperbincangkan masalah yang sangat fundamental, penting dan strategis tetapi banyak dilupakan orang, yaitu masalah kebudayaan. Meskipun demikian peristiwa langka ini terjadi juga pada tanggal 22 Februari yang lalu pada forum seminar strategi pembinaan dan pengembangan kebudayaan di Jakarta yang diselenggarakan oleh Ditjen Kebudayaan Depdiknas. Di dalam forum tersebut satu menteri pendidikan yang masih aktif, Yahya Muhaimin, serta dua menteri pendidikan yang sudah mantan masing-masing Daoed Joesoef dan Fuad Hassan dapat ber-kumpul bersama-sama para pakar, praktisi, pengamat dan penikmat kebudayaan untuk memperbincangkan bagaimana menyusun strategi pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional Indonesia. Kalau kita berbicara mengenai kebudayaan nasional sudah barang tentu di dalamnya terkandung kebudayaan daerah yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. Masalah kebudayaan di negara kita akhir-akhir ini memang terasa dilupakan orang meskipun disadari atau tak disadari hampir semua orang pada setiap harinya selalu berurusan dengan budaya. Ketika ibu-ibu setiap malam melihat penayangan sinetron di televisi mereka sedang berurusan dengan budaya. Ketika anak-anak melihat tayangan film India yang kaya tarian di televisi mereka juga sedang berurusan dengan budaya. Ketika bapak-bapak mengayun cangkul di sawah atau menyetir mobil ke kantor mereka itu pun juga sedang bururusan dengan budaya. Seperti kita ketahui sinetron dan film sebagai karya seni serta cangkul dan mobil sebagai karya teknologi adalah bagian dari budaya. Lalu, mengapa kebudayaan di Indonesia sekarang ini seperti dilupakan orang? Apakah karena alasan itu orang-orang yang sukar dirayu seperti Pak Daoed Joesoef akhirnya bersedia turun gunung? Entahlah, tetapi mungkin juga begitu.
Copyrights © 2000