Sekitar dua bulan yang lalu, tepatnya tanggal 23 dan 24 Februari 1999, lembaga Bank Dunia bekerja sama dengan Bappenas,Depdikbud dan Asia Development Bank menyelenggarakan konferensi pendidikan nasional untuk membicarakan berbagai masalah yang tengah dihadapi dunia pendidikan kita. Pada forum ini juga dibahas laporan pendidikan Bank Dunia yang telah diluncurkan akhir tahun yang lalu, 'Education in Indonesia : From Crisis to Recovery' (1998). Ketika pembahasan topik sampai pada masalah guru maka hampir semua peserta menaruh perhatian. Dan, ketika salah seorang anggota membacakan hasil diskusi kelompok guru yang menyatakan perlunya dilakukan kenaikan sebesar 200 persen terhadap gaji guru maka para peserta konferensipun segera memberi respon dengan bertepuk tangan meriah. Sepertinya mereka yang ada di ruang itu setuju atas kesimpul-an tersebut. Sebagian teman saya dari Bank Dunia dan ADB ada yang ikut bertepuk tangan; sedangkan Pak Juwono Sudarsono selaku men-teri pendidikan saya perhatikan tersenyum kecil. Tepuk tangan yang meriah dari peserta konferensi dan senyuman kecil seorang menteri setidak-tidaknya mengandung dua arti; pertama adanya pengakuan tentang demikian strategisnya posisi guru di dalam khasanah pendidikan nasional, dan kedua, adanya pengakuan tentang belum optimalnya penghargaan terhadap para guru itu sendiri. Memang demikianlah adanya! Sampai kini di negara kita hampir tidak ada orang yang tidak mengakui peran sentral guru dalam menyi-apkan kader-kader bangsa di masa depan. Namun demikian pada sisi yang lain masih banyak perlakuan ketidakadilan yang sering diterima oleh para guru; dengan demikian dapat dimaklumi kalau sekarang ini profesi guru tidak lagi diminati oleh banyak orang.
Copyrights © 1999