ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009

INDUSTRI PERHIASAN (2)

Suyanto, Mohammad (Unknown)



Article Info

Publish Date
22 Nov 2009

Abstract

 Malik bin Anas meriwayatkan bahwa dengan penuh gairah orang Arab memberikan penghargaan terhadap barang pecah belah dari emas dan perak pada saat itu, maka Nabi Muhammad s.a.w. berpikir terpaksa untuk melarang memproduksi dan menggunakan emas dan perak untuk pamer yang mengurangi ketaatan beragama. Pembuat perhiasan umumnya adalah orang Yahudi dari Bani Bainuqa yang tinggal di bagian Madinah. Kota ini dikenal secara khusus, karena pengrajin logam mulia pada awal abad pertengahan.  Al-Salihi al-Shami meriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad s.a.w. menundukkan Bani Bainuqa? di Madinah, beliau memperoleh rampasan dalam jumlah besar pedang, peralatan untuk membuat perhiasan dan peralatan pandai besi. Al-Wakidi juga menegaskan bahwa produk utama yang dijual di pasar Bani Qainuq? sebelum lahirnya Islam adalah perhiasan, panah, tombak dan pedang. Tentu saja, pengrajin perhiasan Madinah bersama-sama pengrajin emas dari Fadak dan Khaibar secara regional sangat dikenal dalam kualitas pekerjaan mereka. Al-Samhudi mensitir Ibnu Zubalah menyatakan bahwa terdapat lebih dari 300 pengrajin perhiasan pada waktu itu, hanya di al-Zuhrah yang terletak di pinggiran kota Madinah. Mekah, Taif dan Wadi al-Qura dilaporkan juga terdapat industri perhiasan yang cukup besar. Produk perhiasan di wilayah tersebut disukai oleh pasar.Produk tersebut berupa cincin, anting-anting, kalung, gelang tangan maupun kaki dan perhiasan lainnya. Zainab binti Mu?wiyah al Thaqafiyah dilaporkan mempunyai kalung emas yang beratnya lebih dari 20 mistqal (lebih dari 85 gram). Pelapisan emas dan perak merupakan kerajinan yang juga dilakukan oleh pengrajin Hijaz di pertengahan awal. Pedang yang dipakai Nabi Muhammad s.a.w. yang terkenal tersebut masuk ke kota Mekah pada 630, dijelaskan bahwa pedang tersebut bertatahkan emas dan perak.  Pedang Abu Jahal, yang ditangkap sebagai rampasan perang Badar pada 624, dikatakan mempunyai hiasan yang serupa. Tombak dan perisai juga dihiasi dengan emas dan perak. Al-Azraqi, al-Fasi, dan al-Qutbi menyatakan bahwa pada waktu sebelum munculnya Islam, kepala suku Quraisy akan merasa bangga dengan menghiasi penutup Ka?bah dengan emas dan perak, bahkan sampai sekarang ini.  

Copyrights © 2009