Sudah merupakan rahasia umum mengenai rendahnya kinerja pendidikan nasional kita. Bukan karena hasil studi PERC, Political and Economical Risk Consultancy (2000) menempatkan Indonesia di ranking ke-12 dari 12 negara di Asia berdasarkan solidnya kinerja pendidikan; tetapi dari berbagai tolok ukur yang diterima masyarakat internasional memang menunjukkan buruknya kinerja pendidikan kita, katakanlah antara lain dengan indeks pembangunan manusia, daya saing ekonomi, diterimanya lulusan pendidikan di pasar global dan sebagainya. Rendahnya kinerja pendidikan nasional tersebut tidak lepas dari visi kepemimpinan kolektif pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Sangat ironis, negara Indonesia yang sangat kaya dengan sumber daya alam baik yang sudah tergali dan termanfaatkan maupun yang belum tergali dan termanfaatkan kurang memiliki pemimpin atau negarawan yang mempunyai visi kepemimpinan jauh ke depan untuk memajukan bangsa. Keadaan tersebut di atas bukan saja dialami sekarang, akan tetapi sudah dirasakan sejak bertahun-tahun yang lalu ketika kon-disi ekonomi dan politik tidak sekompleks saat ini. Para petinggi pemerintah kita ternyata cenderung disibukkan oleh masalah-masalah instan serta terlena pada persoalan-persoalan yang berjangka pendek sehingga kurang mampu memecahkan permasalahan bangsa di dalam jangka panjang ke depan. Sampai sekarang kita tidak dapat menggambarkan bagaimana profil bangsa Indonesia seperempat abad ke depan dikarenakan para petinggi pemerintah memang tidak memiliki desain perencanaan yang matang.
Copyrights © 2002