Pelaksanaan evaluasi belajar tahap akhir secara nasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ebtanas di sekolah, dari SD s/d SMU/SMK saat ini masih berlangsung. Kalau tanggal 22 s/d 25 Mei yang lalu telah berlangsung di SMU, selanjutnya tanggal 29 s/d 31 berlangsung di SLTP, maka pada tanggal 5 s/d 7 Juni sekarang ini berlangsung di satuan SD. Seperti tahun-tahun yang sebelumnya, setiap Ebtanas ber-langsung di sekolah-sekolah maka di media massa muncul komentar publik tentang perlu dan tidaknya Ebtanas dilanjutkan untuk waktu yang akan datang. Oleh karena keadaan ini telah berlangsung ber-tahun-tahun maka pola komentarnya pun dapat dipetakan; di satu sisi ada yang menginginkan untuk segera mengakhiri era Ebtanas, sementara di sisi yang lain ada pula yang menginginkan tetap mem-pertahankan sistem evaluasi belajar yang usianya hampir mencapai dua dasa warsa tersebut. Adu argumentasi mengenai perlu dan tidaknya Ebtanas dia-khiri biasanya cukup ramai diekspose oleh media massa; di samping hal ini juga berlangsung pada ruang-ruang kelas yang melibatkan para guru. Namun hampir dapat dipastikan, komentar itu tinggal komentar dan argumentasi tinggal argumentasi karena pemerintah, yang dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional sepertinya tidak cukup tanggap mengenai hal itu. Jangankan mengambil keputusan, sedangkan mengambil prakarsa untuk mengintensifkan argumentasi saja nampaknya enggan melakukan. Kali ini pun komentar-komentar mengenai Ebtanas "kambuh" kembali. Para pakar dan praktisi pendidikan, tidak kurang mantan menteri pendidikan, Fuad Hassan, dan menteri pendidikan nasional yang masih aktif, Yahya Muhaimin, ikut terlibat dalam mengekspresi pendapat dan pandangannya mengenai Ebtanas. Demikian pula para guru dan sementara anggota masyarakat yang masih menaruh perhatian terhadap pendidikan nasional kita.
Copyrights © 2000