Sebuah kasus aktual baru saja muncul di Yogyakarta; sejumlah siswa sekolah kejuruan melakukan aksi unjuk rasa untuk menyatakan keberatan atau ketidaksetujuannya atas penggantian nama sekolahnya. Di dalam kasus ini para siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) berkeberatan atas penggantian nama sekolahnya menjadi Sekolah Me-nengah Seni dan Kerajinan (SMSK). Mereka juga menyatakan ingin menjadi seniman, bukan sekedar pekerja seni. Kasus tersebut cukup menarik; dari apa yang dilakukan oleh para siswa terlihat bahwa sebenarnya mereka mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap nasib sekolahnya. Kasus tersebut kiranya juga telah memberikan indikasi bahwa tidak benar kalau masuknya para siswa ke sekolah kejuruan sekedar kompensasi atas tidak diterimanya mereka di sekolah umum. Keinginan untuk mempertahankan sesuatu yang khas di sekolahnya menunjukkan bahwa mereka memang memiliki ketertarikan yang relatif tinggi terhadap sekolah kejuruan, dalam hal ini sekolah kejuruan seni rupa. Tulisan ini tentu tidak akan membahas permasalahan yang terjadi pada sekolah tersebut, apalagi ikut mencampuri urusan rumah tangga sekolah; tetapi kasus tersebut mengingatkan kita pada permasalahan klasik di sekolah kejuruan yang sampai kini nampaknya belum tersolusi secara memadai. Adapun permasalahan klasik yang dimaksudkan masing-masing menyangkut sistem penamaan sekolah dan menyangkut orientasi siswa terhadap kualifikasi lulusan sekolah itu sendiri.
Copyrights © 1994