Pernah suatu ketika situasi pendidikan nasional Indonesia mengalami "gangguan" dengan banyaknya kasus perkelahian dan kasus tawuran yang melibatkan anak sekolah. Banyak anak sekolah terlibat perkelahian dan tawuran baik antarpelajar maupun antara pelajar dengan pihak luar. Ketika itu banyak anggota masyarakat menilai bahwa sekolah telah gagal mena-namkan budi pekerti luhur kepada siswa dan lulusannya. Munculnya kasus perkelahian dan tawuran yang melibatkan anak sekolah merupakan refleksi dari perilaku antisosial di masyarakat; dan ini sekaligus merupakan bukti atas gagalnya penanaman budi pekerti luhur di kalangan anak sekolah. Penilaian masyarakat yang berbau complain tersebut sebenarnya dapat dilihat dari sisi yang positif (positive thinking); bahwa masyarakat masih mendambakan pendidikan budi pekerti dapat dilaksanakan secara efektif di sekolah. Sekolah masih diyakini sebagai lembaga dan komunitas yang dapat menanamkan keluhuran budi pekerti bagi anak sebagai bekal dalam menja-lani kehidupan sosialnya. Meskipun kadarnya menurun tetapi situasi seperti itu sampai sekarang belum bisa terhapuskan sama sekali
Copyrights © 2005