"........ alam keluarga itu adalah suatu tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial juga; sehingga boleh dikatakan bahwa keluarga itulah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan ujudnya daripada pusat lain-lainnya, untuk melangsungkan pendidikan ke arah kecerdasan, budi-pekerti (pembentukan watak individuil), dan sebagai persediaan hidup kemasyarakatan". ( Ki Hadjar Dewantara, 1935 ) Ibarat suatu penyakit yang sulit disembuhkan maka tawuran atau perkelahian pelajar akhir-akhir ini kambuh kembali. Dikota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Medan, dsb, tawuran pelajar telah menjadi konsumsi umum. Perilaku antisosial yang sudah menjadi semacam hobby di kalangan remaja tertentu ini bukan saja mengakibatkan fisik yang babak belur akan tetapi telah menelan korban; calon pemimpin bangsa di masa depan yang mati sia-sia. Atas kejadian tersebut dunia wajah pendidikan kita pun menjadi tercoreng; pimpinan sekolah banyak dikritik dan guru banyak dicerca meskipun berbagai kasus tawuran pelajar tersebut seringkali tidak ada hubungannya langsung dengan sekolah dan guru. Perilaku antisosial yang melibatkan para remaja sekolah tersebut nampaknya telah diantisipasi oleh Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hadjar Dewantara. Melalui teori "Tri Sentra Pendidikan" beliau me-nyatakan bahwa untuk mendidik kaum muda kita secara efektif perlu dikembangkan konsepsi "saling isi" di antara ketiga pusat pendidikan; yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Bila ketiga pusat pendidikan ini dapat berjalan secara simultan dan "saling isi" maka keterdidikan kaum muda kita dapat ditingkatkan, dan berbagai perilaku antisosial di masyarakat akan dapat ditekan.
Copyrights © 1996