Hari-hari setelah testing masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) selesai dilaksanakan, maka untuk tahun ini menggunakan pola Sipenmaru, biasanya pembicaraan orang/masyarakat mulai beralih pada PTS, Perguruan Tinggi Swasta. Motivasi pembicaraannya cukup jelas, demi kelangsungan studi putera-puterinya ke perguruan tinggi --sementara daya tampung PTN semakin terbatas-- maka anggota masyarakat yang berkepentingan dalam hal ini semakin merasa harus mengadakan relasi langsung dengan PTS. Di lain pihak beberapa PTS makin banyak yang mengetengahkan kebonafiditasannya diatas eksistensi yang kian kokoh. Kalau saja kita suka berbicara dengan jujur, saat ini kualitas beberapa PTS sudah sangat menonjol bila dibandingkan dengan kualitas PTN tertentu (untuk tidak mengatakan: jauh lebih baik). Sangat sayang, dan harus diakui pula, bahwa kualitas PTS masih sangat heterogen. Penonjolan kualitas sebuah PTS selalu saja diimbangi oleh degradasi mutu PTS yang lain. Untuk mengetahui kualitas atau bonafiditas PTS biasanya pembicaraan masyarakat lalu mengarah pada 'status akreditasi', dan tidak sedikit yang memiliki anggapan bahwa status akreditasi adalah satu-satunya tolok ukur.
Copyrights © 1985