ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006

TIGA RATUS TINGKAT DI SURGA

Suyanto, Mohammad (Unknown)



Article Info

Publish Date
07 Nov 2009

Abstract

Dalam buku Creating Your Own Destiny, Patrick Snow bercerita tetang seorang Indian tua bersama cucunya.   Seorang India tua tersebut memberikan pelajaran hidup kepada cucunya. ?Sebuah pertarungan terus berkecamuk dalam diriku. Pertarungan sengit antara dua ekor serigala? kata Indian tua kepada cucunya. ?Yang satu jahat, dia adalah kemarahan, iri hati, kesedihan, kesombongan, keserakahan, kebohongan, rendah diri, kebanggaan semu, rasa bersalah, tinggi hati dan egoisme. Yang kedua baik, dia adalah kegembiraan, kedamaian, cinta, harapan, rendah hati, ketenangan, keramahan, kedermawanan, empati, kebaikan, kebenaran, memahami perasaan dan iman. Pertarungan serupa berlangsung dalam dirimu, cucuku, juga di dalam diri semua orang? kata India tua. Si cucu berpikir sejenak, lalu bertanya kepada kakeknya ?Kek, serigala mana  yang menang ??. Indian tua itupun menjawab ?Yang kamu beri makan?. Apakah kita memberi makan serigala yang jahat ?. Saya yakin kita akan memberi makan serigala yang baik. Dengan memberi makan serigala yang baik, kita akan dapat menghadapi berbagai persoalan kehidupan, termasuk persoalan bisnis maupun persoalan bencana yang baru berlalu. Memang benar memberi makan serigala yang jahat lebih mudah daripada memberi makan serigala yang baik. Nafsu jahat berupa kemarahan, iri hati, kesedihan, kesombongan, keserakahan, kebohongan, rendah diri, kebanggaan semu, tinggi hati, egoisme dan menyalahkan orang lain merupakan makanan empuk serigala jahat. Ketika kita tertimpa kegagalan, kesulitan ataupun musibah, seperti saat-saat ini kadangkala kita lebih menyukai makanan serigala jahat. Memang musibah gempa saat ini yang kita rasakan sangatlah berat, tetapi jika mampu untuk memakan makanan tersebut maka makanan tersebut merupakan makanan terbaik yang sangat dicintai oleh Allah. Makanan tersebut adalah sabar.  Sebagian besar sabar adalah keharusan menahan diri dari hawa nafsu yang jahat dan terlepas dari pengaruhnya. Dengan sabar memaksa Anda berpikir dan bertindak lebih cerdas. Sabar adalah makanan pahit yang tidak mudah untuk dimakan. Seperti halnya menuntuk ilmu perlu untuk belajar memakan sabar. Mulai dari menahan marah dengan sungguh-sungguh dan pada akhirnya akan menjadi kebiasaan untuk dapat menahan marah. Jika menahan marah sudah menjadi kebiasaan, maka tidak akan pernah lagi kemarahan itu berkobar dan juga apabila terlanjur marah, maka untuk memadamkan marah tersebut tidak terlalu sulit. Seseorang yang mampu makan makanan seperti ini dikatakan mempunyai tabiat sabar, yang akan menjadi pemenang di dunia maupun di akhirat. Dalam kitab Mukasyafatul Qulub, Al-Ghazali menuliskan bahwa ?Barang siapa yang bersabar untuk taat kepada Allah, maka Allah akan memberinya tiga ratus tingkat di surga kelak di hari kiamat. Setiap tingkat seluas jarak di antara langit dan bumi. Barang siapa yang bersabar dalam menghindari larangan-larangan Allah, maka Allah memberinya enam ratus tingkat di surga kelak di hari kiamat. Setiap tingkat seluas jarak antara langit ketujuh dan bumi ketujuh. Dan barang siapa bersabar menghadapi musibab, Allah akan memberinya tujuh ratus tingkat di surga. Setiap tingkat seluas jarak antara Arasy dan bumi?.

Copyrights © 2006