Dengan tanpa ada maksud mengabaikan pelaksanaan Ebtanas di sekolah-sekolah yang lain, yang dalam hal ini ialah di SD, SLTP, dan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) maka mencermati dan mengevaluasi pelaksanaan Ebtanas pada Sekolah Menengah Umum (SMU) secara lebih seksama memang sangat penting dilakukan. Pelaksanaan Ebtanas SMU yang baru saja selesai dilaksanakan tanggal 6 s/d 9 Mei 1996 yang lalu memiliki nilai yang strategis berkaitan dengan kualitas pendidikan di perguruan tinggi. Berdasar Peraturan Pemerintah No.29/1990 tentang Pendidikan Menengah maka lulusan sekolah menengah umum, yang dalam hal ini SMU, memang lebih disiapkan untuk melanjutkan studinya ke pergu-ruan tinggi; berbeda dengan lulusan SMK yang lebih disiapkan terjun langsung ke dunia kerja. Secara empirik lebih dari 85% mahasiswa perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri yang diselenggarakan pemerintah maupun perguruan tinggi swasta yang diselenggarakan masyarakat, ternyata berasal dari SMU. Dari ilustrasi tersebut di atas nampak jelas terdapatnya hubungan kausal-asimetris (asymmetrycal relationship) antara Ebtanas SMU dengan kualitas pendidikan tinggi. Adapun penjelasannya ialah tinggi rendahnya pencapaian prestasi Ebtanas siswa yang dimanifestasikan dalam pencapaian Nilai Ebtanas Murni (NEM) akan sangat menentukan tinggi rendahnya kualitas kandidat mahasiswa perguruan tinggi. Sudah barang tentu kualitas mahasiswa perguruan tinggi kita akan sangat sulit untuk dioptimalisasi apabila kualitas kandidatnya sangat rendah (underqualified). Pelaksanaan Ebtanas SMU semakin perlu kita cermati sekaligus kita evaluasi mengingat secara empirik dari tahun ke tahun senantiasa muncul banyak keluhan (complain) siswa SMU itu sendiri di dalam menjalani Ebtanasnya.
Copyrights © 1996