Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) pada tahun 2009 di Indonesia berada pada peringkat ketiga di dunia darilaporan World Health Organiazation (WHO).berdasarkan hasil survey pada tahun 2010 jumlah penderita TB paru diIndonesia mencapai 289 per 100.000 penduduk. Saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-5 negara penderita TB paruterbesar di dunia.Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi intensif kategori I pada kenaikan berat badanpenderita TB paru ditinjau dari konversi BTA. Penelitian ini bersifat analitik.Hasil Penelitian: Diwilayah kerja puskesmas seginim, palak bengkerung dan anggut di kabupaten Bengkulu selatanpada tahun 2013 diketahui bahwa dari 80 orang ternyata lebih dari separuhnya yaitu 69 orang (86,3%) yang mengalamikenaikan berat badan dan hanya 1 orang (1,3%) dengan konversi hasil pemeriksaan BTA masih positif. Dimana hasil ujichi-square mendapat nilai x2hitung (6,352) lebih besar dari x2tabel (3,841) dimana P= 0,05 dan dk/df=1,itu artinya adahubungan antara kenaikan berat badan penderita TB paru yang sedang mendapat pengobatan intensif dengan konversihasil pemeriksaan BTA.Kesimpulan: Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Puskesmas Seginim, Puskesmas Palak Bengkerung, danPuskesmas Anggut di Kabupaten Bengkulu Selatan Pada Tahun 2014. Maka dapat di tarik kesimpulan bahwa Terdapathubungan antara kenaikan berat badan penderita TB paru yang sedang mendapat pengobatan intensif dengan konversihasil pemeriksaan BTA.
Copyrights © 2015