Pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja merupakan hal yang sangat penting sehingga perlu dilembagakan/diorganisir. Sekolah sebagai tempat mempersiapkan siswamenjadi anggota masyarakat, kini juga dituntut memberikan pendidikan kesehatan reproduksi yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan ketentuan hukun yang berlaku. Melalui Sistem Pendidikan Nasional Indonesia bahwa peluang untuk mengakomodasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi masuk ke dalam kurikulum muatan lokal termaktub dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan : Mengetahui persepsi guru apabila Pendidikan Kesehatan Reproduksi menjadi Kurikulum Muatan Lokal di SMA. Penelitian akan bermanfaat untuk pengembangan pendidikan khususnya pada pendidikan kesehatan reproduksi, karena pendidikan kesehatan reproduksi akan menjadi sebuah ilmu baru dalam keguruan yang setara dengan mata pelajaran lainnya. Metode: penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara kepada subyek sebanyak 8 guru yang tergabung dalam Forum Guru Kesehatan Reproduksi dan studi dokumentasi. Hasil: Guru memahami pendidikan dalam kurikulum muatan lokal seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Nomor 79 Tahun 2014 tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013 berisi potensi dan keunikan lokal yang dipahami dengan pendidikan seni, budaya dan agama. Sekolah dapat menyelenggarakan Pendidikan Kesehatan Reproduksi dalam jam pelajaran apabila ada kebijakan dari sekolah dan Dinas Pendidikan. Di Daerah Istimewa Yogyakarta berpeluang menyelenggarakan Pendidikan Kesehatan Reproduksi mengacu Peraturan Gubernur Nomor 109 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Kesehatan Reproduksi Remaja.Kata kunci: Pendidikan Kesehatan Reproduksi, Kurikulum Muatan LokalBackground: Reproduction health education for teenagers is very important so it needs to be institutionalized/organized. Schools as a place to prepare students to be members of the community, is now also required to provide health education in accordance w ith the needs of students and provisions of the applicable law. Through the National Education System Indonesia has an opportunity to accommodate reproduction health education into the category of local content include in Law Number 20 Year 2003 on Nationa l Education System. Objective: Knowing the perceptions of school teachers of Reproduction Health Education to Local Curriculum in SMA. Research will be useful for the development of education, especially in health education, because health education will become a new science in teacher that is equivalent to other subjects. Method: This research uses qualitative research method by conducting interviews to the subjects of 8 teachers who are members of Reproductive Health Teacher Forum and documentation study.Results: The teacher understands education in the local curriculum as contained in Ministerial Regulation No. 79 of 2014 on Local Content of Curriculum 2013 with local potential and uniqueness that is understood by art, culture and religion education. Schools can organize Reproductive Health Education in school lesson time policy from schools and Education Office. In the Special Region of Yogyakarta has the opportunity to be held Reproductive Health Education Government Regulation Number 109 Year 2015 on the Implementation of Reproductive Health TeensKeywords: Reproductive Health Education, Local Curriculum
Copyrights © 2019