Sebagai kitab suci yang autentik dan sempurna, wajar jika al-Qur?an dianggap sakral dan harus diterima sebagai doktrin yang didekati secara dogmatis-ideologis. Namun, tentulah akan lebih memuaskan akal dan melegakan hati, jika al-Qur?an didekati melalui metodologi ilmiah-rasional. Untuk itu, ayat-ayat al-Qur?an-terutama yang menimbulkan pemahaman ambigu (mutasyabihat) harus mendapat ?sentuhan? makna esoteris (takwil). Perangkat takwil ini melahirkan beragam interpretasi tentang implementasi kajian bahasa dan sastra sehingga bahasa al-Quran itu bias dipahami karena al-Quran itu adalah petunjuk bagi manusia , dan di antara fokus kajian pemikir belakangan adalah wacana majas (Metafora) dan hakiki (denotative). Di sinilah pentingnya penalaran terhadap ayat-ayat al-Qur?an. Meskipun konsep ini tidak diterima di semua kalangan ulama, ia telah menjadi kajian tersendiri dalam disiplin ilmu tafsir dan al-Quran, yang dinamakan dengan konsep Hakikat dan Majaz.Kata Kunci : Isti?arah, Dogmatis-ideologis, Hakikat, Majaz
Copyrights © 2017