Semua organisasi pasti membutuhkan SPM untuk mencapai visi misi yang ditetapkan. Tidak terkecuali untuk industri kreatif griya karya tiara kusuma yang merupakan salah satu cabang industri kreatif kategori kerajinan dengan menghasilkan berbagai macam produk olahan mangrove, yaitu batik tulis, sirup, krupuk dan sabun. Griya karya tiara kusuma adalah pelopor batik tulis mangrove yang ada di Indonesia. Minimnya literatur pembahasan sistem pengendalian manajemen dengan industi kreatif maka penelitian ini merupakan basic research dengan mempelajari hubungan pengendalian manajemen dengan industri kerajinan batik tulis. Kendali manajemen griya karya tiara kusuma sangat dipengaruhi oleh filosofi organisasi. Empat kendali manajemen yang dikemukakan oleh Merchant dan Van Der Stede (2007) sepenuhnya tidak bisa dijalankan dalam industri batik tulis. Karena ada beberapa perbedaan dengan industri konvensional lainnya. Lebih menekankan pada pemanfaatan daya kreativitas tiap individu untuk menggoreskan desain batik yang berseni. Proses pembuatan batik yang tidak bisa terpatok dengan waktu dan membutuhkan penjiwaan untuk berkreasi. Oleh sebab itu ada perbedaan pada penerapan pengendalian hasil, proses, personal dan budaya. Membuka paradigma baru bahwa pengendalian industri kreatif berbeda dengan industri pada umumnya. Menjadi pengendalian budaya kerja, pengendalian pengembangan produk, pengendalian operasional, dan pengendalian kualitas. Griya Karya Tiara Kusuma tetap membutuhkan SPM supaya mencapai tujuan yang ditetapkan.
Copyrights © 2013