Kaidah-kaidah seni yang berkembang pada masa Bali Kuna pada awalnya berasal dari teks-teks Hindu berbahasa Sansekerta, yang tentunya diterapkan di dalam praktik menciptakan karya-karya seni, baik itu pada seni pahat batu, seni rupa logam, arsitektur, maupun seni tari, teater, karawitan, dan sastra. Pandangan orang Hindu terhadap estetika, dalam hal ini ajaran weda merupakan unsur yang paling dominan dalam estetika Bali sekaligus ruh budaya Bali. Setiap kreativitas budaya Bali, termasuk kesenian, tidak akan bisa lepas dengan ikatan-ikatan nilai luhur budaya Bali, terutama nilai-nilai estetika yang bersumber dari agama Hindu. Estetika Hindu pada intinya merupakan cara pandang mengenai rasa keindahan (lango) yang diikat oleh nilai-nilai agama Hindu yang didasarkan atas ajaran-ajaran kitab suci weda. Ada beberapa konsep yang menjadi landasan penting dari estetika Hindu seperti: konsep kesucian, konsep kebenaran, dan konsep keseimbangan. Estetika menurut Hindu, berkaitan dengan prinsip-prinsip ke-Tuhanan. Seniman Bali berkesenian atas dasar konsep ngayah, baik kepada masyarakat maupun kepada Tuhan, selalu melibatkan unsur-unsur ritual dalam setiap aktivitas berkesenian mereka untuk menjaga kesucian karya seni yang dihasilkan. Bagi masyarakat Bali kesejahteraan lahir dan batin dapat diraih, apabila masyarakat itu dengan konsekuen melaksanakan konsep-konsep utama agama Hindu. Adapun konsep-konsep utama agama Hindu yang terkait dengan estetika tersebut ialah: (1)Sekala dan Niskala, (2)Tri Hita Karana, (3)Desa Kala Patra, (4)Karmaphala, (5)Taksu dan Jengah, serta (6)konsep Kosmologi.Kata-kata kunci: estetika, agama Hindu, kesenian Bali
Copyrights © 2008