This Author published in this journals
All Journal Imajinasi
Dewa Made Karthadinata
Penulis adalah seorang dosen Jurusan Seni Rupa FBS Universitas Negeri Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI TENTANG PENGEMBANGAN DESAIN KERAJINAN KERAMIK DESA MAYONG LOR JEPARA Karthadinata, Dewa Made
Imajinasi Vol 1, No 2 (2005): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Mayong Lor merupakan sentra industri kerajinan keramik, sebagian warga masyarakat menggantungkan kebutuhan ekonomi rumah tangganya pada kegiatan memproduksi kerajinan keramik tersebut. Masalah yang dikaji dirumuskan sebagai berikut: (1) barang-barang apa saja yang diproduksi para perajin keramik Mayong Lor ?, (2) dalam upaya memenuhi tuntutan pasar, upaya apakah yang dilakukan perajin mengembangkan desain keramik?, (3) bagaimana bentuk hasil pengembangan desain keramik itu? (4) faktor-faktor apakah yang mempengaruhi usaha-usaha pengembangan desain keramik Mayong Lor? Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji, memahami, dan menjelaskan permasalahan tersebut. Hasilnya diharapkan bermanfaat sebagai bahan informasi dan evaluasi bagi pengembangan desain keramik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sasaran penelitian adalah pengembangan desain keramik, seperti apa yang dirumuskan dalam masalah di atas. Data penelitian dikumpulkan dengan wawancara mendalam, pengamatan terlibat, dan teknik dokumentasi. Selanjutnya data penelitian dianalisis secara induktif, melalui proses reduksi, penyajian dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama kehadiran kerajinan bagi kehidupan keluarga sangat bermakna karena, dapat menunjang kehidupan atau mata pencaharian sehari-hari. Kedua, beberapa upaya perajin dalam pengembangan desain keramik, agar tetap mendapat peluang pasar yang baik, adalah dengan mengikuti pelatihan, belajar mandiri dan mengikuti perkembangan pasar. Ketiga, pengembangan desain keramik Mayong Lor secara umum terlihat ada dua bentuk yaitu pengembangan desain keramik pakai dan desain keramik murni atau keramik seni. Terakhir, keberhasilan pengembangan desain keramik tersebut didukung oleh faktor-faktor dari dalam dan luar. Faktor-faktor dari dalam meliputi kondisi lingkungan alam yang menyediakan bahan baku, semangat para tokoh perajin dalam mengembangkan usahanya dan dukungan moral dari Kepala Desa yang selalu mendampingi dan memantau para perajin dalam mengembangkan desain. Faktor-faktor dari luar, adalah pelatihan dari Tim Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Seni Rupa UNNES dan Balai Besar Keramik Bandung. Faktor penghambat adalah rendahnya tingkat pendidikan perajin dan keterbatasan bahan bantu finishing serta minimnya sarana produksi. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) para tokoh perajin senior hendaknya perlu terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya terutama dalam mengembangkan desain produk serta teknologi produksi, (2) bantuan instansi dan lembaga terkait perlu diteruskan dan ditingkatkan secara periodik kepada perajin, (3) krisis pengadaan bahan bantu finishing dan sarana produksi seperti alat putar, bahan pewarna perlu segera ditangani Koperasi Unit Desa (KUD). Kata kunci : pengembangan, desain , keramik.
ESTETIKA HINDU DALAM KESENIAN BALI Karthadinata, Dewa Made
Imajinasi Vol 4, No 1 (2008): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaidah-kaidah seni yang berkembang pada masa Bali Kuna pada awalnya berasal dari teks-teks Hindu berbahasa Sansekerta, yang tentunya diterapkan di dalam praktik menciptakan karya-karya seni, baik itu pada seni pahat batu, seni rupa logam, arsitektur, maupun seni tari, teater, karawitan, dan sastra. Pandangan orang Hindu terhadap estetika, dalam hal ini ajaran weda merupakan unsur yang paling dominan dalam estetika Bali sekaligus ruh budaya Bali. Setiap kreativitas budaya Bali, termasuk kesenian, tidak akan bisa lepas dengan ikatan-ikatan nilai luhur budaya Bali, terutama nilai-nilai estetika yang bersumber dari agama Hindu. Estetika Hindu pada intinya merupakan cara pandang mengenai rasa keindahan (lango) yang diikat oleh nilai-nilai agama Hindu yang didasarkan atas ajaran-ajaran kitab suci weda. Ada beberapa konsep yang menjadi landasan penting dari estetika Hindu seperti: konsep kesucian, konsep kebenaran, dan konsep keseimbangan. Estetika menurut Hindu, berkaitan dengan prinsip-prinsip ke-Tuhanan. Seniman Bali berkesenian atas dasar konsep ngayah, baik kepada masyarakat maupun kepada Tuhan, selalu melibatkan unsur-unsur ritual dalam setiap aktivitas berkesenian mereka untuk menjaga kesucian karya seni yang dihasilkan. Bagi masyarakat Bali kesejahteraan lahir dan batin dapat diraih, apabila masyarakat itu dengan konsekuen melaksanakan konsep-konsep utama agama Hindu. Adapun konsep-konsep utama agama Hindu yang terkait dengan estetika tersebut ialah: (1)Sekala dan Niskala, (2)Tri Hita Karana, (3)Desa Kala Patra, (4)Karmaphala, (5)Taksu dan Jengah, serta (6)konsep Kosmologi.Kata-kata kunci: estetika, agama Hindu, kesenian Bali