Penyelenggaraan upacara tradisional sebagai bagian dari kebudayaan, kelestarian hidupnyaditentukan oleh fungsinya bagi masyarakat pendukungnya. Salah satu fungsi sosialnya yaknisebagai penguat norma serta nilai budaya, sehingga dapat dijadikan untuk menentukan sikap dantingkah laku pendukungnya. Di Tengger hampir tidak ada hari tanpa upacara tradisi, yang diikutiseluruh masyarakat termasuk yang bukan pemeluk agama Hindu, salah satunya adalah upacaraKasada. Upacara Kasada dilaksanakan setiap tanggal 14 atau bulan purnama mangsa Ashada,dalam acara ngelabuh di kawah gunung Bromo, oleh dukun tertinggi, yang diikuti seluruh dukunbawahannya, serta masyarakat pendukungnya. Dalam upacara ini setiap desa diwajibkan membuat2 ongkek, yang terbuat dan terdiri dari bunga kumitir, bunga tonolayu, bunga waluh, kentang, kobis,kacang-kacangan, daun pakis, daun beringin, daun telatok, daun tebu, jantung pisang, buah pare,dan buah pisang, yang selesai dibuat sekitar pukul 16.00. Pukul 19.00 dibawa ke rumah carik olehwong sepuh, selanjutnya di-pelaspas dukun. Selanjutnya salah satu ongkek dibawa ke poten ditengah segara wedhi sekitar pukul 01.00 untuk upacara mulunan, sebagai ujian calon dukun. Selesaipelantikan dukun baru, saatnya mempersembahkan sesaji kehadirat Hyang Maha Agung, jika waktutelah mencapai putih wetan maka berakhir pula puncak acara tradisional Kasada tersebut.Kata kunci: acara ritual, Kasada, tradisional, masyarakat Tengger
Copyrights © 2007