Jika membicarakan tuturan imperatif atau kalimat perintah, biasanya yang ada di dalam benak kita adalahtuturan yang menggunakan konstruksi imperatif. Artinya, sudut pandang yang dipakai dalam kajian ihwaltuturan imperatif hanya berfokus pada aspek struktural. Padahal, pernyataan yang demikian dalamperkembangan pemakaian bahasa secara fungsional dapat menimbulkan persoalan. Persoalannya adalahbahwa dalam kegiatan bertutur makna pragmatik imperatif ternyata tidak hanya dapat dinyatakan dengankonstruksi imperatif saja melainkan dapat pula dinyatakan dengan konstruksi-konstruksi lainnya.Berdasarkan hal itu, maka permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah: (1) Bagaimanakah wujud formaltuturan imperatif dalam bahasa Jawa? (2) Bagaimanakah wujud pragmatik tuturan imperatif dalam bahasaJawa?Tujuan penelitian ini adalah (a) memaparkan wujud formal tuturan imperatif dalam bahasa Jawa, dan(b) memaparkan wujud formal tturan imperatif dalam bahasa Jawa. Data penelitian ini meliputi berbagaimacam tuturan dalam bahasa Jawa keseharian baik secara tertulis maupun secara lisan sejauh di dalamnyaterkandung maksud atau makna pragmatik imperatif. Data penelitian dapat berwujud tuturan yangmengandung tuturan imperatif langsung maupun tidak langsung. Data disediakan dengan mengunakanmetode simak dan cakap. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metodekontekstual. Hasil analisis data disajikan secara informal, artinya hasil temuan penelitian disajikan dalambentuk kata-kata biasa yang sangat teknis sifatnya.Hasil penelitian ini adalah bahwa imperatif dalam bahasa Jawa memiliki dua macam perwujudan.Kedua jenis perwujudan itu mencakup (1) wujud formal imperatif dan (2) wujud pragmatik imperatif. Secaraformal, imperatif dalam bahasa Jawa meliputi (1) imperati aktif dan (2) imperatif pasif. Secara pragmatik,imperatif bahasa Jawa mencakup beberapa perwujudan, yakni imperatif yang mengandung maknapragmatik (a) desakan, (b) bujukan, (c) himbauan, (d) persilaan, (e) larangan, (f) perintah, (g) permintaan,dan (h) ngelulu. Dengan pelaksanaan kegiatan ang terencana dan hasil ang diperoleh, peneliti menyarankanagar penelitian yang berkenaan dengan pemakaian tuturan imperatif dalam bahasa Jawa perluditindaklanjuti dengan penelitian lain yang serupa, berancangan sama, namun memiliki ruang lingkup kajianyang lebih sempit, misalnya pemakaian tuturan imperatif bahasa Jawa pada ranah atau dialek tertentu,untuk mendapatkan analisis yang mendalam dan didapatkan kelengkapan pemerian pemakaian tuturanimperatif dalam masyarakat yang berbahasa Jawa.Kata kunci: wujud formal, wujud pragmatik, imperatif bahasa Jawa
Copyrights © 2010