Salah satu masalah yang berkaitan dengan penyebaran Islam, baik di dalam maupun diluar Timur Tengah, adalah peranan tokoh kharismatik. Di dalam karya-karya sastera, mereka digambarkan sebagai "orang suci" atau "wali" dan cerita-cerita mengenai kehidupan mereka seringkali berisikan kisah-kisah tentang keajaiban. Bagi masyarakat Arab di Asia Tenggara, prestasi tokoh-tokoh semacam itu memainkan peranan penting di dalam pembentukan identitas mereka, karena mereka bangga menjadi keturunan mereka yang berasal dari Jazirah Arabia dan menyebarkan pengetahuan tentang Islam di kalangan orang-orang tempat mereka tinggal. Arikel ini mencoba untuk menganalisis lingkup kekuasaan orang-orang suci Arab pada abad 19-20 dengan mendiskusikan cara mereka dipresentasikan dalam literatur-literatur bio-hagiography yang disebut manaqib. Sumber utama untuk diskusi adalah sebuah buku berjudul Taj al-A'ras (mahkota/puncak perkawinan), sebuah manaqib Arab yang terbit diIndonesia pada tahun 1970. Dalam diskusi, penulis memfokuskan pada hubungan antara orang-orang suci migran Arab di Asia Tenggara (kebanyakan dari mereka berasal dari sebuah wilayah Arabia Selatan Hadramawt) dan penguasa di masyarakat tempat mereka tinggal. Pertama-tama, anekdot tentang keajaiban yang digunakan orang-orang suci Arab untuk membantu atau untuk menentang penguasa disajikan dan hubungan kemanusiaan di antara para karakter di dalam cerita dianalisis. Kemudian, cerita-cerita dibandingkan dengan riwayat kehidupan tokoh-tokoh Arab terkemuka yang bukan merupakan orang suci pada periode yang sama, dan dengan orang-orang suci di Hadramawt. Proses ini akan menunjukkan kekuasaan orang-orang suci Arab di masyarakat-masyarakat tempat mereka tinggal. Kata kunci: migran Arab; Asia Tenggara; manaqib; kekuasaan.
Copyrights © 2005