Teknika
Vol 12, No 1 (2011)

Rancang Bangun Alat Pengering Yang Memanfaatkan Gas Buang Berdasarkan Kajian Perpindahan Panas Dan Karakteristik Koefisien Difusivitas Kerupuk

Budihardjo Achmadi Hasyim, (Unknown)



Article Info

Publish Date
01 Feb 2011

Abstract

Abstrak Khusus untuk Usaha Kecil dan Menengah produksi makanan ringan (krupuk), pada saat musim hujan pasti mengalami kendala dan hambatan pada proses pengeringan. Selama ini proses pengeringan kerupuk, masih banyak yang hanya mengandalkan panas dari sinar matahari. Padahal untuk mendapatkan kualitas pengeringan yang baik, pada proses ini membutuhkan waktu antara 5 s/d 6 jam. Keadaan ini akan tercapai bila matahari bersinar terang tanpa mendung maupun hujan. Namun apabila keadaan mendung atau hujan proses pengeringan bisa membutuhkan waktu 2 kali lipatnya. Dengan kata lain pada saat mendung atau hujan proses produksi akan berhenti total dan jika dipaksakan untuk melakukan proses penggorengan, maka hasilnya jelek (tidak renyah) dan membutuhkan lebih banyak minyak goreng. Tujuan dalam penelitian ini yaitu tersusunnya suatu peralatan oven pengering yang memanfaatkan gas panas buang hasil dari proses penggorengan sehingga dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas serta kontinuitas produksinya tetap terjaga (meskipun musim hujan). Metode dalam penelitian ini didasarkan atas rancangan penelitian pengembangan dengan prosedur pelaksanaan dikelompokkan menjadi dua tahapan yaitu: (1) Tahapan penelitian rancangan peralatan pemanfaatan gas buang, (2) Tahapan penelitian implementasi hasil rancangan peralatan pemanfaatan gas buang pada unit usaha krupuk. Berdasarkan hasil uji alat pengering yang memanfaatkan gas buang dapat dinyatakan bahwa untuk mengeringkan kerupuk hanya membutuhkan waktu 64 jam dengan kualitas relatif sama dengan pengeringan konvensional di bawah sinar matahari dimana suhu ruangan dalam alat pengering sudah sesuai dengan kondisi suhu panas matahari karena panas udara ruang alat pengering suhunnya bisa kontinyu dan terjaga sesuai yang dikehendaki (berkisar 50 oC), karena pada alat ini dilengkapi termokopel yang dihubungkan dengan sensor panas yang ditempatkan dalam ruangan alat pengering. Kelembaban udara dalam ruangan alat pengering cenderung turun secara perlahan dan bisa dikontrol secara manual dengan cara memberikan cendela di atas ruang pengering sehingga sehingga kelembaban udara dalam ruangan alat pengering dapat terjaga berkisar 54 % sesuai dengan kondisi kelembaban pengeringan menggunakan panas matahari. Hal ini tentunya sangat membantu UKM kerupuk dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya.

Copyrights © 2011