Proses latihan
dilakukan sesuai dengan program yang telah disusun oleh pelatih yang
menanganinya. Program pelatihan seharusnya memenuhi prinsip-prinsip dan
persyaratan ideal setiap cabang olahraga. Idealnya program latihan disusun
dalam waktu satu tahun, kemudian program latihan tersebut dirinci menjadi
program-program bulanan, program mingguan dan kemudian dikembangkan menjadi
program latihan harian. Dari pengembangan program latihan harian ini tentunya
akan muncul kebutuhan waktu dan bentuk kegiatan latihan untuk atlet tersebut
setiap harinya. Penyusunan program latihan mencakup latihan fisik, latihan
teknik, mental, taktik dan ujicoba dari hasil latihan. Terkait dengan program
pelatihan ini, maka di setiap cabang olahraga seharusnya memiliki pelatih yang
memiliki kompetensi kepelatihan. Pelatih yang baik adalah orang yang imajinatif
juga artistik dalam melaksanakan program olahraga yang berlandaskan ilmu. Di
sisi lain lain seorang atlet yang akan mengikuti program pembinaan prestasi
melalui program pelatihan harus mempunyai persiapan kondisi awal, sesuai dengan
tuntutan cabang olahraga yang akan dikembangkan. Persiapan awal tersebut sesuai
dengan kebutuhan pelatihan, antara lain mencakup: a) fisik, b) teknik, c)
taktik, dan d) psikologis. Dengan demikian proses pelatihan merupakan suatu
proses kompleks dan terpadu. Hal ini mengindikasikan bahwa secara konseptual
pembinaan atlet profesional merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa
komponen sistem. Oleh karena itu dalam pelaksanaan kepelatihan yang ideal dalam
setiap cabang olahraga tidak cukup ditangani oleh seorang pelatih ahli olahraga
saja, tetapi harus ditangani secara kolaborasi dengan berbagai ahli dalam
bidang terkait (seperti: kesehatan, psikolog, ahli pendidikan, ahli
pengetahuan, ahli pengukuran, ahli media, dll). Selama proses pelatihan seorang
atlet harus mengikuti uji coba atlet melalui even kejuaraan untuk setiap cabang
olahraga. Hasil-hasil latihan maupun hasil pertandingan ataupun ujicoba
merupakan data yang sangat autentik, sebagai dasar untuk menilai tingkat
kualitas pelatihan dan untuk memperbaiki program-program latihan yang akan
datang. Aspek kekurangan tersebut dapat terletak pada pelatih, sarana, program, dan
pada alat sebagai suatu sistem, maka selama proses pelatihan perlu diadakan
evaluasi.
Copyrights © 2010