Melintas An International Journal of Philosophy and Religion
Vol. 26 No. 3 (2010)

Insight - Teater dan Teknologi Metafor

A. Husein, Fathul (Unknown)



Article Info

Publish Date
14 Dec 2010

Abstract

”Teater yang gagah dalam kemiskinan”, itulah teknologi berpikir dalam taraf metafor tingkat tinggi dari WS. Rendra, sang guru; kendati cuma sesobek kain, selonjor bambu, atau sebongkah batu kali, dengan tubuh-tubuh telanjang di atas pentas karena ketiadaan materi, namun seluruh makna dunia terserap di dalamnya. Begitu pun Jerzy Grotowski dengan wejangan ’Teater Melarat’-nya (Poor Theatre) yang lebih mengedepankan ’teknologi tubuh’ untuk menciptakan daya cekam pentas, juga dalam ”Teater Keberingasan” (Theatre of Cruelty) Antonin Artaud, yang tergila-gila kepada spiritualitas Bali itu, di mana tubuh adalah jiwa, bukan materi. Itulah alam kita, dunia kita, yang tak mungkin bisa mengejar teknologi modern Barat yang canggih dan mahal, yang hanya menjadikan kita sebagai budak-budaknya (dalam banyak hal teater kita pun cenderung menjadi budak teater Barat). Semakin kita berupaya mengejar, semakin kecanggihan mereka melesat jauh meninggalkan kita. Apa yang kita anggap pencapaian tercanggih hari ini tidak lain adalah masa lalu mereka sekian dekade yang telah lewat. Lagi apa perlunya mengejar mereka. Alam pikir dan khayal kita berbeda dengan mereka.

Copyrights © 2010






Journal Info

Abbrev

melintas

Publisher

Subject

Religion Arts Humanities Languange, Linguistic, Communication & Media Social Sciences

Description

The aim of this Journal is to promote a righteous approach to exploration, analysis, and research on philosophy, humanities, culture and anthropology, phenomenology, ethics, religious studies, philosophy of religion, and theology. The scope of this journal allows for philosophy, humanities, ...