Fathul A. Husein
Department of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Insight - Teater dan Teknologi Metafor A. Husein, Fathul
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 26 No. 3 (2010)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.462 KB) | DOI: 10.26593/mel.v26i3.321.333-338

Abstract

”Teater yang gagah dalam kemiskinan”, itulah teknologi berpikir dalam taraf metafor tingkat tinggi dari WS. Rendra, sang guru; kendati cuma sesobek kain, selonjor bambu, atau sebongkah batu kali, dengan tubuh-tubuh telanjang di atas pentas karena ketiadaan materi, namun seluruh makna dunia terserap di dalamnya. Begitu pun Jerzy Grotowski dengan wejangan ’Teater Melarat’-nya (Poor Theatre) yang lebih mengedepankan ’teknologi tubuh’ untuk menciptakan daya cekam pentas, juga dalam ”Teater Keberingasan” (Theatre of Cruelty) Antonin Artaud, yang tergila-gila kepada spiritualitas Bali itu, di mana tubuh adalah jiwa, bukan materi. Itulah alam kita, dunia kita, yang tak mungkin bisa mengejar teknologi modern Barat yang canggih dan mahal, yang hanya menjadikan kita sebagai budak-budaknya (dalam banyak hal teater kita pun cenderung menjadi budak teater Barat). Semakin kita berupaya mengejar, semakin kecanggihan mereka melesat jauh meninggalkan kita. Apa yang kita anggap pencapaian tercanggih hari ini tidak lain adalah masa lalu mereka sekian dekade yang telah lewat. Lagi apa perlunya mengejar mereka. Alam pikir dan khayal kita berbeda dengan mereka.
Insight - Teater dan Teknologi Metafor A. Husein, Fathul
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 26 No. 3 (2010)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v26i3.321.333-338

Abstract

”Teater yang gagah dalam kemiskinan”, itulah teknologi berpikir dalam taraf metafor tingkat tinggi dari WS. Rendra, sang guru; kendati cuma sesobek kain, selonjor bambu, atau sebongkah batu kali, dengan tubuh-tubuh telanjang di atas pentas karena ketiadaan materi, namun seluruh makna dunia terserap di dalamnya. Begitu pun Jerzy Grotowski dengan wejangan ’Teater Melarat’-nya (Poor Theatre) yang lebih mengedepankan ’teknologi tubuh’ untuk menciptakan daya cekam pentas, juga dalam ”Teater Keberingasan” (Theatre of Cruelty) Antonin Artaud, yang tergila-gila kepada spiritualitas Bali itu, di mana tubuh adalah jiwa, bukan materi. Itulah alam kita, dunia kita, yang tak mungkin bisa mengejar teknologi modern Barat yang canggih dan mahal, yang hanya menjadikan kita sebagai budak-budaknya (dalam banyak hal teater kita pun cenderung menjadi budak teater Barat). Semakin kita berupaya mengejar, semakin kecanggihan mereka melesat jauh meninggalkan kita. Apa yang kita anggap pencapaian tercanggih hari ini tidak lain adalah masa lalu mereka sekian dekade yang telah lewat. Lagi apa perlunya mengejar mereka. Alam pikir dan khayal kita berbeda dengan mereka.