AbstrakPenelitian tersebut merupakan penelitian pembentukan citra negatif pasangan calon presiden Jokowi Ma’ruf Amin. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumen. Beragam persepsi negatif yang disematkan kepada Jokowi. Berbagai serangan negatif tersebut sebagai bentuk perlawanan atas berbagai prediksi yang menyatakan bahwa pasangan calon presiden petahana Jokowi dan Ma’ruf Amin akan menjadi pemenang Pilpres 2019 mengalahkan pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno. Berbagai isu negatif disebarkan untuk menurunkan elektabilitas Jokowi Ma’ruf. Isu yang menyerang Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019 adalah Jokowi seorang PKI dan pembangunan infrastruktur yang hanya untuk kalangan berada. Jokowi mendapat serangan bahwa pro terhadap asing dan aseng. Pada masa kampanye Pilpres 2019, Jokowi banyak diserang dengan isu LGBT dan harga pangan yang naik. Apabila dicermati, penggunaan berbagai isu negatif tersebut terbukti mampu menggerus peta suara pasangan Jokowi-Ma’ruf. Hanya saja penggunaan berbagai isu negatif untuk menyerang pihak lain sangat berbahaya dan terbukti memecah belah masyarakat.Kata kunci: citra negatif, pilpres, Jokowi AbstractThe research was a research about the building of a negative image of presidential and vice presidential candidates, Jokowi-Ma’ruf Amin. About the building of a negative image of presidential and vice presidential candidates, Jokowi-Ma’ruf Amin uses descriptive qualitative research methods. Data and data sources used in this study are documents. Various negative images were pinned to Jokowi. These negative images are a form of resistance against various predictions stating that the incumbent presidential candidate and vice presidential candidate, Jokowi and Ma’ruf Amin, will be the winners of the 2019 presidential election defeating Prabowo and Sandiaga Uno. Various negative issues were spread to reduce the electability of Jokowi-Ma’ruf. The issues that bombarded Jokowi in 2014 and 2019 presidential Jokowi was accused of being too soft on foreigners and ‘aseng’. During the 2019 presidential election campaign, Jokowi was also attacked with the issues of LGBT and the rise of food prices. The use of various negative issues has proven to erode Jokowi-Ma'ruf’s electoral map. The imposition of various negative issues to attack other parties is very dangerous and is proven to disrupt the community.Keywords: negative image, presidential election, Jokowi
Copyrights © 2019