Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PERKEMBANGAN FUNGSI PRAGMATIK PADA ANAK USIA 2,5 TAHUN (STUDI KASUS PADA AZZA AQILA JIHAN SYUASABITHA) Ali Kusno
Kadera Bahasa Vol 9, No 1 (2017): Kadera Bahasa
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.018 KB) | DOI: 10.47541/kaba.v9i1.4

Abstract

The golden age of kid was a sensitive period. During this period, the kid was specially receiving the stimulant from theenvironment. The period of kid’s language development was various, dependent on the characteristics. This study relatedto the function development of kid’s language. The example case to the girl 2,5 years old, Azza Aqila Jihan Syuasabitha(Jihan). Jihan was growing in the family environment and child caring. The kid’s language was developing quickly. Theusage of language was devoted to Jihan’s interaction with family members. Collecting data method in this study was theobservation. The subject in this study was the child’s author. This study aimed to describe the development of Jihan’sspeech as child 2,5 years old based on the language function grouping according to M.A.K Halliday. The result of thestudy showed the kid can apply all of language function usage. Those are the instrumental, the regulatory, the interactional,the personal, the heuristic, the imaginative, and the representational. Therefore, she was interpreted has the ability aboveaverage the children the same age. The achievement was influenced by biological factors (parents who have good languageskills) and social environment (in the house, in the school, and so on) which can stimulate Jihan’s language development AbstrakMasa keemasan anak merupakan periode sensitif (sensitive periods). Selama masa tersebut anak secarakhusus mudah menerima stimulus-stimulus dari lingkungan. Tempo perkembangan bahasa anakcenderung variatif tergantung karakteristik anak. Penelitian ini berhubungan dengan perkembanganfungsi bahasa anak. Contoh kasus, Azza Aqila Jihan Syuasabitha (Jihan) anak perempuan yang berusia2,5 tahun. Jihan besar dalam lingkungan keluarga dan taman penitipan anak. Perkembangan fungsibahasanya pesat. Pemakaian bahasa dikhususkan pada interaksi Jihan dengan anggota keluarga.Pengumpulan data dalam penelitian dengan teknik pengamatan berperan serta. Subjek penelitian iniadalah anak penulis sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan tuturanJihan sebagai anak yang berusia 2,5 tahun berdasarkan pengelompokan fungsi bahasa menurut M.A.KHalliday. Hasil penelitian menunjukkan anak itu mampu menerapkan keseluruhan fungsi penggunaanbahasa, yakni instrumental, regulatoris/dogmatis, interaksional, personal, heuristik, imajinatif, danrepresentasional. Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa anak itu memiliki kemampuan diatas rata-rata anak seumur dia. Pencapaian tersebut dipengaruhi oleh faktor biologis (orang tua yangmemang memiliki kemampuan berbahasa yang baik) dan lingkungan sosial (di rumah, sekolah, dantempat lain).
ASOSIASI PORNOGRAFI PADA LIRIK LAGU CAMPURSARI Ali Kusno
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 13, No 1 (2015): METALINGUA, EDISI JUNI 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.659 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v13i1.50

Abstract

SEBAGIAN lagu-lagu campursari dicekal oleh KPID Jawa Tengah karena berasosiasipornografi. Asosiasi pornografi merupakan pertautan dalam diri seseorang setelahmelihat atau mendengar suatu objek sehingga mengarahkan ingatan pada hal-hal yangdapat membangkitkan berahi seksual seseorang. Tujuan penelitian ini adalahmendeskripsikan karakteristik lirik lagu campursari yang berasosiasi pornografi. Metodeyang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Analisiswacana dalam penelitian ini menggunakan tiga pendekatan, yakni semantik, pragmatik,dan semiotik. Dalam pengumpulan data digunakan data lagu campursari yang termasukdalam 43 lagu yang dicekal KPID Jawa Tengah. Selanjutnya, digunakan teknik catattranskrip lirik lagu campursari tersebut dari berbagai sumber di internet. Adapun teknikanalisis data menggunakan model interaktif. Karakteristik lagu-lagu campursari yangmenimbulkan asosiasi pornografi adalah sebagai berikut: pertama, menggunakan pilihanjudul yang terkait objek dan aktivitas seksual; kedua, menciptakan ambiguitas makna;ketiga, menggunakan asosiasi alat kelamin; keempat, menggunakan asosiasi bagiantubuh yang sensual; kelima, menggunakan asosiasi kepasrahan seksual; keenam,menggunakan asosiasi rangsangan seksual; ketujuh, menggunakan asosiasi tahapan hubungan seksual; kedelapan, menggunakan asosiasi hubungan seksual; kesembilan,menggunakan asosiasi intensitas hubungan seksual; kesepuluh, menggunakan asosiasikepuasan seksual; kesebelas, menggunakan asosiasi perselingkuhan; kedua belas,menggunakan asosiasi tempat prostitusi; ketiga belas, menggunakan asosiasi tarifseksual; keempat belas, menggunakan asosiasi akibat hubungan seksual.
PESAN POLITIK MEGAWATI SOEKARNOPUTRI DALAM PIDATO ULANG TAHUN KE-44 PDI PERJUANGAN Ali Kusno
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.47

Abstract

AbstractChairman of the Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati delivered a politicalspeech in the 44th anniversary of PDIP, Megawati's speech reaped a variety of criticisms fromsome parties without intrepreting the whole content of the speech thoroughly. This study aims toanalyze the political messages contained in the discourse of Megawat’s political speech. This studyuses a model of critical discourse analysis by Fairclough. The data are taken from the discourse ofMegawati's speech. The data are analyzed using an interactive model. The results show thatMegawati’s political speech does not harm certain parties. The message delivered is a purepersuasion to the country to uphold Pancasila, the 1945 Constitution, and to maintain the nationalunity which is knows as Bhineka Tunggal Ika. Even if there is an apposing party, it could bepossible because of differences in political views and interests. The issue often arises when peoplein the political parties are sometimes too reactive to the statement and associate it with racialissues. The problems that actually have nothing to do with the racial issues can be a big issuebecause they were exaggerated. AbstrakKetua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati menyampaikan pidatopolitik dalam HUT ke-44 PDIP. Pidato Megawati itu menuai beragam kecaman dari beberapa pihaktanpa memaknainya secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan menganalisis pesan politik yangterdapat dalam pidato Megawati tersebut. Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritisModel Fairclough. Data penelitian diambil dari wacana pidato Megawati tersebut. Teknik analisisdata menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Megawati dalam pidatopolitiknya tidak ada satu pernyataan pun yang mencederai pihak tertentu. Hal yang disampaikanmurni persuasi terhadap bangsa Indonesia untuk menjunjung pancasila, UUD 1945, dan menjagapersatuan bangsa yang Berbhineka Tunggal Ika. Kalaupun ada pihak lain menentang, bisadimungkinkan karena perbedaan pandangan politik dan kepentingan. Persoalan justru seringmuncul ketika tokoh-tokoh tersebut reaktif terhadap pernyataan dan mengaitkannya dengan isuSARA. Permasalahan yang sebenarnya tidak ada kaitannya (SARA) dapat menjadi isu besar karenadibesar-besarkan.
KESANTUNAN LINGUISTIK KALIMAT IMPERATIF OLEH GURU DAN PENGASUH KEPADA ANAK DIDIK DI TAMAN PENITIPAN ANAK (TPA) SANGGAR RUBINHA SAMARINDA (LINGUISTIC POLITENESS OF IMPERATIVE SENTENCES BY TEACHERS AND CAREGIVERS TO LEARNERS AT TPA RUBINHA STUDIO SAMARINDA) Ali Kusno
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 2 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.962 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v4i2.3703

Abstract

Kesantunan Linguistik Kalimat Imperatif oleh Guru dan Pengasuh kepada Anak DidikDi Taman Penitipan Anak (TPA) Sanggar Rubinha Samarinda. Penelitian kesantunanmengkaji penggunaan bahasa dalam suatu masyarakat bahasa tertentu. Penelitian ini menggunakanmetode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini berhubungan dengan pemakaianbahasa tutur. Pengumpulan data dengan teknik pengamatan berperan serta, sedangkan teknik analisadata menggunakan model interaktif. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa, pertama, gurudan pengasuh menggunakan tuturan yang panjang. Semakin panjang tuturan yang digunakanakan semakin santun. Kedua, guru dan bunda pengasuh menggunakan urutan tuturan. Penggunaanurutan tutur menentukan makna sebuah tuturan. Ketiga, guru dan bunda pengasuh menggunakanintonasi dalam bertutur dengan bahasa yang halus, sedangkan isyarat kinestetik yang mengikutituturan biasanya pada eskpresi wajah yang menunjukkan marah atau jengkel. Keempat, guru danpengasuh menggunakan ungkapan penanda kesantunan berupa kata tolong, ayo, coba, dan tidakapa-apa.Kata-kata kunci: kesantunan, linguistik, kalimat imperatif
PEMBENTUKAN CITRA NEGATIF CALON PRESIDEN JOKO WIDODO JELANG PEMILIHAN PRESIDEN 2019 Ali Kusno
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 14, No 2 (2019): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.086 KB) | DOI: 10.26499/loa.v14i2.1748

Abstract

AbstrakPenelitian tersebut merupakan penelitian pembentukan citra negatif pasangan calon presiden Jokowi Ma’ruf Amin. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumen. Beragam persepsi negatif yang disematkan kepada Jokowi. Berbagai serangan negatif tersebut sebagai bentuk perlawanan atas berbagai prediksi yang menyatakan bahwa pasangan calon presiden petahana Jokowi dan Ma’ruf Amin akan menjadi pemenang Pilpres 2019 mengalahkan pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno. Berbagai isu negatif disebarkan untuk menurunkan elektabilitas Jokowi Ma’ruf. Isu yang menyerang Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019 adalah Jokowi seorang PKI dan pembangunan infrastruktur yang hanya untuk kalangan berada. Jokowi mendapat serangan bahwa pro terhadap asing dan aseng. Pada masa kampanye Pilpres 2019, Jokowi banyak diserang dengan isu LGBT dan harga pangan yang naik. Apabila dicermati, penggunaan berbagai isu negatif tersebut terbukti mampu menggerus peta suara pasangan Jokowi-Ma’ruf. Hanya saja penggunaan berbagai isu negatif untuk menyerang pihak lain sangat berbahaya dan terbukti memecah belah masyarakat.Kata kunci: citra negatif, pilpres, Jokowi AbstractThe research was a research about the building of a negative image of presidential and vice presidential candidates, Jokowi-Ma’ruf Amin. About the building of a negative image of presidential and vice presidential candidates, Jokowi-Ma’ruf Amin uses descriptive qualitative research methods. Data and data sources used in this study are documents. Various negative images were pinned to Jokowi. These negative images are a form of resistance against various predictions stating that the incumbent presidential candidate and vice presidential candidate, Jokowi and Ma’ruf Amin, will be the winners of the 2019 presidential election defeating Prabowo and Sandiaga Uno. Various negative issues were spread to reduce the electability of Jokowi-Ma’ruf. The issues that bombarded Jokowi in 2014 and 2019 presidential Jokowi was accused of being too soft on foreigners and ‘aseng’. During the 2019 presidential election campaign, Jokowi was also attacked with the issues of LGBT and the rise of food prices. The use of various negative issues has proven to erode Jokowi-Ma'ruf’s electoral map. The imposition of various negative issues to attack other parties is very dangerous and is proven to disrupt the community.Keywords: negative image, presidential election, Jokowi
PEMATUHAN DAN PELANGGARAN PRINSIP KESOPANAN SERTA FUNGSINYA DALAM WACANA TERKAIT USULAN DANA ASPIRASI DPR DI RUBRIK POLITIK KOMPASIANA (COMPLIANCE AND VIOLATION OF POLITENESS PRINCIPLES AND ITS FUNCTION ON THE DISCOURSE OF ASPIRATION FUND PROPOSED BY REP) Ali Kusno
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3701.97 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.106

Abstract

Wacana dana aspirasi sebesar Rp1,2 triliun yang diusulkan DPR menjadi polemik dalam masyarakat. Polemik itu terjadi, salah satunya pada media sosial Kompasiana. Untuk itu, tulisan ini membahas fenomena pragmatik (pematuhan dan pelanggaran) pada rubrik Kompasiana dengan metode deskriptif kualitatif. Sementara itu, dalam pemerolehan data digunakan teknik unduh dan dalam penganalisisan digunakan metode interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para kompasianer (penulis artikel) mematuhi prinsip-prinsip kesopanan. Prinsip kesopanan yang digunakan meliputi maksim kearifan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim simpati. Pematuhan tersebut menunjukkan bahwa kompasianer menempatkan diri sebagai bagian masyarakat. Di sisi lain, pelanggaran prinsip kesopanan meliputi maksim pujian, yakni mengkritik langsung; bertutur kasar, sengaja ingin memojokkan mitra tutur, dan menyampaikan tuduhan atas dasar kecurigaan terhadap mitra tutur. Pelanggaran maksim kesepakatan dihrnjukkan dengan pertentangan pemahaman mengenai usulan dana aspirasi DPR. Pelanggaran-pelanggaran itu berfungsi untuk menyampaikan kritik pedas kepada anggota DPR.Discourse aspiration funds amounting to Rp11.2 trillion which is proposed by House of Representatives is being debated in society. Polemics happens, one of them on social media Kompasina. Therefore, this study discuses pragmatics phenomenon (compliance and violation) of Kompasiana rubric with descriptive qualitative method. Meanwhile, the data is obtained by using download techniques and in analyzing data employs interactive methods. The result shows that the kompasioner (writer of the article) adheres to the principles of modesty. Politeness principles used include tact maxime, approbation maxime, modesty maxime, agreement maxime, and sympathy maxime. The compliance function indicates that kompasioner get themselves as part of society. Meanwhile, violation of the modesty principle covers praise maxime, namely denounces members of Parliament in various ways, such as directly criticize with harsh words or phrases; speak with a driven sense of emotion; deliberately want to discredit hearer; convey the charges on the basis of suspicion against the hearer. Further violatioon of agreement maxime shows by the opposition understanding of the Representative aspiration fund. The intention of violation is to convey scathing criticism to members of Representative members.