Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dosis hidrogel dan frekuensi penyiraman air yang sesuai terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah dengan sistem vertikultur yang dilaksanakan di Desa Karang Sari, Kec. Medan Polonia dengan ketinggian 25 meter diatas permukaan laut yang dimulai pada bulan Februari sampai April 2016, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor dan diulang 3 kali. Faktor pertama adalah dosis hidrogel dengan 3 taraf yaitu 0 g/tanaman (tanpa hidrogel), hidrogel 0,1 g/tanaman, dan hidrogel 0,2 g/tanaman dan faktor kedua adalah frekuensi penyiraman dengan 3 taraf yaitu penyiraman dengan frekuensi 1 hari 1 kali, 3 hari 1 kali, dan 6 hari 1 kali. Hasil penelitian menunjukan dosis hidrogel hanya berpengaruh nyata dengan jumlah daun pada 5 minggu setelah tanam (MST) sedangkan frekuensi penyiraman berpengaruh nyata dengan jumlah daun pada 2 – 5 MST. Interaksi perlakuan dosis hidrogel dan frekuensi penyiraman berpengaruh nyata dengan bobot basah umbi dan bobot kering umbi per paralon. Kombinasi perlakuan dosis hidrogel 0,2 g/tanaman dan frekuensi penyiraman 1 hari 1 kali (H3P1) menunjukan bobot basah tertinggi 57,03 g dan bobot kering tertinggi 45,17 g yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan dosis hidrogel 0,2 g/tanaman dan frekuensi penyiraman 6 hari 1 kali (H3P3) dengan bobot basah 51,68 g dan bobot kering 39,63 g. Kata kunci : bawang merah, frekuensi penyiraman, hidrogel, vertikultur
Copyrights © 2018