ABSTRAK Stasiun pengukur Curah Hujan sangat dibutuhkan. Data curah hujan sangat penting dalam analisis hidrologi. Tujuan dari setiap pengukuran curah hujan suatu lokasi adalah untuk memperolehdata yang benar-benar mewakili lokasi tersebut. Dalam melakukan pengukuran curah hujan terdapatbeberapa pertimbangan antara lain adalah bagaimana menentukan lokasi alat penakar hujan tersebutagar dapat mewakili daerah yang diinginkan guna menghitung curah hujan suatu area. Daerah AliranSungai (DAS) Belawan terletak pada provinsi Sumatera Utara mempunyai luas wilayah 460km.Dalam menganalisa DAS Belawan meliputi analisis jumlah alat yang efesien untuk penakar hidrologi, Mengetahui Kualitas data hidrologi, Meninjau dan mengetahui kondisi, lokasi perletakanalat pos hidrologi. Data yang digunakan adalah data primer diperoleh dengan cara mengukur jarakpos hujan yang sudah ada agar lebih akurat dan data sekunder yang diperoleh dari Instansi terkait. Untuk pengukuran kerapatan jaringan stasiun hujan pada DAS Belawan, metode digunakanadalah metode Kagan. Perhitungan kerapatan menggunakan metode Kagan ini dimulai denganmenggunakan koefisien korelasi antar stasiun hujan untuk curah hujan bulanan. Sebelum data curahhujan masing masing dipakai, terlebih dahulu harus melewati pengujian untuk kekonsistenan datatersebut dengan metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums). Dari hasil pengujian dengan metodetersebut menghasilkan jumlah dan pola penempatan stasiun hujan yang optimal sehingga memenuhipersyaratan dan diperoleh hasil data yang akurat. Hasil analisis perhitungan pada DAS Belawan terdapat 3 stasiun aktif dan data yang dihasilkankonsisten. Perhitungan dengan Metode Kagan tidak perlu penamhan jumlah stasiun hujan karenaBerdasarkan pedoman WMO (World Meteorological Organitation) untuk daerah tropik sepertiIndonesia, dalam keadaan normal kerapatan minimum sebesar 100-250 Km/stasiun. Kata kunci : Stasiun hujan, Pos Hujan, Kesalahan Perataan, Metode Kagan.
Copyrights © 2017