Jurnal Teknik ITS
Vol 3, No 2 (2014)

Analisis Perilaku FPSO (Floating Production Storage and Offloading) Terhadap Internal Turret Mooring System Berbasis Simulasi Time Domain

Rizki Amalia Prasiwi (Jurusan Teknik Kelautan Fakultas Teknologi Kelautan - ITS)
Imam Rochani (Jurusan Teknik Kelautan Fakultas Teknologi Kelautan - ITS)



Article Info

Publish Date
14 Sep 2014

Abstract

FPSO (Floating Storage Production and Offloading) merupakan salah satu struktur terapung yang dapat digunakan sebagai tempat produksi, storasi/ penyimpanan maupun offloading minyak dan gas bumi lepas pantai. Oleh sebab itu, FPSO memiliki peranan penting dalam eksplorasi ladang   minyak di perairan dalam. Pada tempatnya beroperasi, FPSO akan dikenai beban lingkungan yang dapat menyebabkan ia berperilaku dinamis. Untuk mengurangi gerakan dan menjaga supaya FPSO tetap berada pada tempatnya beroperasi, maka dibutuhkan suatu sistem tambat. Dalam Tugas Akhir ini, dilakukan analisis perilaku gerak FPSO pada saat terapung bebas maupun tertambat dengan internal turret mooring dalam 6 derajat kebebasan. FPSO beroperasi di Teluk Meksiko dengan kedalaman perairan 1865 m. Tugas Akhir ini juga menganalisis nilai tension maksimum pada tali tambat yang diprediksi berdasarkan simulasi time-domain untuk kondisi ULS (all lines intact) dan ALS (one line damaged). Dari hasil analisis perilaku gerak, FPSO diilustrasikan dalam 3 kondisi muatan (muatan penuh, muatan 25% dan muatan ballast). Dari ketiga muatan tersebut, dalam kondisi terapung bebas maupun tertambat didapatkan hasil bahwa kondisi muatan ballast lah yang memiliki gerakan paling besar. Pada kondisi terapung bebas kondisi muatan ballast dihasilkan RAO surge tertinggi sebesar 0.918 m/m (pada arah 0o), RAO sway tertinggi sebesar 0.962 m/m (pada arah 90o), RAO heave tertinggi sebesar 2.771 m/m (pada arah 45o), RAO roll tertinggi sebesar 7.78 deg/m (pada arah 90o), RAO pitch tertinggi sebesar 1.007 deg/m (pada arah 180o) dan RAO yaw tertinggi sebesar 0.415 deg/m (pada arah 45o). Apabila hasil RAO kondisi terapung bebas tersebut dibandingkan secara prosentase terhadap hasil RAO kondisi tertambat maka selisihnya adalah untuk surge sebesar -4.9%, sway sebesar 0.21%, heave sebesar 56.08%, roll sebesar 82.43%, pitch sebesar 49.65% dan yaw sebesar 40%. Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan tali tambat untuk FPSO dalam analisis ini cukup signifikan pengaruhnya terhadap perilaku gerak. Untuk analisis tension dilakukan simulasi perhitungan time-domain selama 3jam. Pada kondisi ULS, SF yang diijinkan oleh  API RP 2SK 2nd edition dapat dipenuhi dengan tension maksimum terjadi pada line 3 pada arah 45o, yakni sebesar 263632.6 N untuk fibre rope dan 640504.75 N untuk chain. Dan untuk kondisi ALS juga memenuhi SF yang diijinkan oleh  API RP 2SK 2nd edition yakni dengan satu tali tambat diputus (line 2) menghasilkan tension maksimum yang terjadi pada line 3, yakni sebesar 255159.344 N untuk fibre rope dan 633727.75 N untuk chain.

Copyrights © 2014






Journal Info

Abbrev

teknik

Publisher

Subject

Engineering

Description

Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 ...