Setiap orang memiliki sisi religiusitas, tak terkecuali pada transgender pemeluk agama Islam. Terjadinya pergulatan antara identitas gender dan agama yang dianut merupakan hal yang tidak terelakkan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami religiusitas pada transgender yang memutuskan untuk menjadi santri pondok pesantren dan bagaimana pondok pesantren memberikan pengaruh pada kehidupan religius setiap subjek. Peneliti menggunakan pendekatan fenomenologis dengan metode interpretative phenomenological analysis (IPA) dikarenakan memiliki proses analisis yang rinci. Selain itu, IPA berfokus pada pengalaman yang dialami serta bagaimana seseorang memberikan arti terhadap pengalaman yang dialami. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Ketiga partisipan dalam penelitian ini diperoleh menggunakan teknik purposive dengan karakteristik utama santri pondok pesantren yang aktif mengikuti kegiatan dan dalam rentang usia 40-65 tahun. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tiga tema utama, yaitu: menjadi santri transgender, religiusitas, dan dinamika kehidupan dewasa madya. Terdapat peningkatan dalam sisi religiusitas pada ketiga partisipan penelitian setelah bergabung di pondok pesantren, baik dalam kepercayaan, ritual dan praktik, pengetahuan, pengalaman beragama, dan pengamalan agama. Selain itu, terdapat pengaruh agama terhadap tingkah laku di masa dewasa madya, seperti prinsip hidup untuk tidak melakukan operasi kelamin agar kembali pada Tuhan sebagaimana kondisi ketika dilahirkan, serta harapan-harapan di masa tua seperti peningkatan di bidang agama.
Copyrights © 2017