Tidak dapat dipungkiri, hingga kini pun guru-guru dipandang tetap sebagai orator verbalist dalam pembelajaran, termasuk pembelajaran sains. Mengacu pada fenomena para guru yang cenderung stagnan sebagai orator verbalist, perlu upaya-upaya yang mampu mengubah peran guru tersebut menjadi guru yang memiliki kemampuan menciptakan suasana dan lingkungan belajar yang kondusif. Untuk memenuhi hal tersebut, Semiawan (1991) mengemukakan bahwa âPemenuhan persyaratan guru profesional akan mengubah peran guru yang semula sebagai orator yang verbalistis menjadi yang berkekuatan dinamis dalam menciptakan suatu suasana dan lingkungan belajar yang kondusifâ. Suasana dan lingkungan belajar yang kondusif seperti apa yang dapat diciptakan untuk pembelajaran sains tentu tidak terbatas atau dengan kata lain beragam, tetapi dalam salah satu sudut pandang, misalnya dalam sudut pandang âkonteksâ, siswa akan lebih tepat jika mengoptimalkan local genius, kearifan lokal atau keunggulan lokal. Akan tetapi justru nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lokal yang penuh dengan nilai-nilai kearifan lokal diabaikan dalam berbagai pembelajaran, termasuk pembelajaran sains maupun fisika di sekolah (Suastra, 2005). Untuk itulah, dalam makalah ini dibicarakan tentang pembelajaran sains berbasis kearifan lokal mengacu pada âLandasan Yuridis Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokalâ dalam upaya mengembalikannya sebagai modal berharga dalam pembelajaran agar belajar dan mengajar sains menjadi lebih bermakna.
Copyrights © 2013