Penerapan teknologi inokulasi rhizobakteri tahan kekeringan bertujuan untukintroduksi dan transfer teknologi pupuk hayati (Biofertilizer) yang mampumeningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman kekeringan, sehingga produksijagung dan skala usaha tani dilahan kering dapat ditingkatkan. Selain itu, dapatmengefisiensi penggunaan air pada sistem pertanaman jagung dilahan kering.Metode kegiatan yang digunakan meliputi : Penyuluhan, Demplot dan sistemperdampingan secara terpadu yang dilakukan di desa Karangploso.Dari desa tersebutdipilih 3 kelompok tani untuk dijadikan obyek sasaran demplot dan sistemperdampingan. Penerapan teknologi ini dilapangan dilakukan dengan menginokulasirhizobakteri dengan kerapatan 108 cfu/ml dengan cara memberikan inokulum cairpada tanaman jagung umur 2 minggu.Inokulum campuran rhizobakteri (isolat A119, A82, dan M7b) ternyata efektifdalam meningkatkan produksi jagung sampai 8,1% pada arah kekeringan tinggi(lengas 50% kapasitas lapang) sedangkan pada kondisi kapasitas lapangan bakteriasli tanah lebih efektif dan pada aras kekeringan sedang (75% kapasitas lapang)pengaruhnya relatif sama. Dengan demikian teknologi ini dapat menghematpenggunaan air mencapai 50% dan juga dapat meningkatkan skala usaha tanimenjadi 2 kali tanam atau tahun. Sedangkan respon petani di Desa Karangploso(tempat demplot) cukup baik dan petani merasa ada teknologi alternatif yang dapatdigunakan untuk mengatasi dampak kekeringan yang membatasi sistem usahataninya.
Copyrights © 2004