Serangkaian realitas memperlihatkan bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) asli Papua terbilang masih jauh dari harapan. Salah satu bukti nyata yang dapat dijadikan sebagai tolak ukurnya adalah masih adanya pebelajar Asli Papua tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan juga tingkat Perguruan Tinggi yang tidak dapat membaca secara lancar. Penyebab terjadinya persoalan ini, oleh para pembelajar dinilai akibat sejumlah faktor, diantaranya yakni; (1) tidak adanya/minimnya fasilitas pendukung penyelenggaran pendidikan yang memadai, (2) minimnya sumber dan media penunjang pembelajaran, serta (3) rendahnya kesadaran para orang tua akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Dari sudut pandang para orang tua, rendahnya kualitas SDM Asli Papua dinilai karena minimnya sumber daya pembelajar, baik secara kuantitas maupun kualitas. Kondisi ini tak jarang mengakibatkan orang tua, pihak sekolah bahkan juga pemerintah saling melempar tanggungjawab. Meski demikian, tanpa bermaksud mengabaikan peran dan tanggungjawab dari pihak lain, menurut hemat penulis pembelajarlah yang semestinya menjadi pihak yang paling bertanggunjawab atas rendahnya kualitas SDM di wilayah Papua. Alasannya adalah karena dari segi keilmuan dan keahlian pembelajarlah yang dipersiapkan secara khusus untuk mengambil alih tanggungjawab mengembangkan SDM suatu wilayah tertentu, tak terkecuali SDM di Wilayah Papua. Sayangnya, tanggungjawab tersebut belum dapat dilaksanakan secara optimal karena terlanjur terbentuknya paradigma berpikir dan pola praktek pendidikan yang destruktif yang diamini oleh para pembelajar. Guna mengubah paradigma destruktif dan juga guna menghentikan praktek pendidikan destruktif tersebut, maka suatu langkah rekonstruksi paradigma berpikir para pembelajar dalam rangka mengefektifkan pembangunan SDM Asli Papua perlu digalakan. Oleh karena itu, melalui artikel ilmiah ini, berikut akan diuraikan langkah strategis-inovatif yang dapat dimplementasikan guna mengefektifkan proses pembangunan SDM Asli Papua.
Copyrights © 2017