Tanggal 1 hingga 10 Muharam, di Bengkulu diadakan Festival Tabot. Sejarah mencatat Tabot merupakan upacara dan ritual yang dibawa oleh pekerja dari India di jaman kolonialisme Inggris. Sejak tahun 1990 Tabot resmi menjadi festival tahunan Provinsi Bengkulu. Tradisi Tabot merupakan ekspresi religius dan kebudayaan Islam Syiah yang berangkat dari Tragedi Karbala yaitu dibunuhnya Imam Husein, cucu dari Nabi Muhammad. Bagi Provinsi Bengkulu, tradisi ini bisa menjadi potensi peluang bagi diplomasi kebudayaan. Kesamaan identitas dalam hal ekspresi religius dan kebudayaan untuk memperingati Tragedi Karbala bisa menjadi material yang potensial diolah bagi aktor yang menjalankan diplomasi kebudayaan untuk meningkatkan pariwisata di Bengkulu. Jurnal ini berupaya untuk meneliti mengenai peluang diplomasi budaya Tabot dengan diplomasi multi jalur antara kesatuan pemerintah Provinsi Bengkulu dan sektor warga negara dalam hal ini keluarga Tabot, pegiat seni dan kebudayaan Tabot yang ingin mendapat atensi dari penganut Islam Syiah di berbagai negara Namun tantangannya di dalam negeri, kelompok dengan pandangan agama Islam yang puritan dan fundamental semakin meningkatkan kampanye sentimen terhadap Islam Syiah dan melabeli festival Tabot sebagai praktek bid’ah dan syirik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis dengan membangun kerangka konseptual diplomasi budaya dan multijalur diplomasi. Kata kunci: Tabot., Diplomasi Kebudayaan., Multijalur Diplomasi.
Copyrights © 2019